
Langkah-langkah kaki yang terlihat begitu energik, pandangan matanya begitu tajam penuh dengan sorotan keilmuan, badan tegapnya terlihat begitu gagah penuh kharismatik, budi baik juga bijaksana namun penampilannya tetap bersahaja, simpul senyuman yang terukir diwajah segarya begitu menarik setiap orang yang melirik. Ucapan-ucapan yang syarat makna, juga motivasi namun disampaikan dengan penuh humoris, nyantai dan tepat pada sasaran, tak heran jika banyak orang yang merinduknnya. Dialah sang promotor Syukriadi Sambas atau `Embah” nya dakwah.
“Yang lebih pantas untuk menjadi penyaji utama dalam seminar ini seharusnya adalah SYUKRI karna sebetulnya dialah yang `Embah”nya dakwah”. Demikian dikatakan seorang Guru Besar Dakwah UIN Syarif Hidayatulloh Jakarta Prof.Drs Yunan Yusuf, di sela-sela seminar tentang masa depan dakwah di IAIN Wali Songo Semarang 2004 yang lalu. Pernyataan yunan juga diiyakan oleh dekan fakultas dakwah IAIN Wali Songo yang sama-sama jadi pembicara. Sedangkan Syukri panggilan pendek dari Syukriadi Sambas yang duduk di sebelahnya hanya mesam-mesem, tersenyum mungil namun tetap terlihat kharismatik.
Pernyataan Yunan ini bukan berarti tanpa alasan, selain secara formal waktu itu Syukri di daulat jadi pembicara dengan membawa bendera APBI (Asosiasi Profesi Dakwah Indonesia), juga secara keilmuan diakui oleh kedua pembicara di acara tersebut. Buku-buku daras (kajian) dakwahnya tersebar di sejumlah toko buku dan dijadikan referensi oleh mahasiswa, khususnya mahasiswa fakultas dakwah. Bahkan ketika Yunan menyampaikan Orasinya, banyak hasil tulisan Syukri yang beliau kutip dijadikan referensi orasi. Ini semakin menguatkan keyakinan penulis bahwa secara keilmuan SYUKRI layak dijuluki sebagai `Embah”nya Dakwah. Sehingga tidaklah berlebihan jika penulis memberikan judul tulisan profil ini seperti tercamtum diatas.
Dikawasan yang paling Agraris didunia yang disebut juga kota hujan, tepatnya Tegal Kalapa, Babakan Raden, Cariu Bogor, SYUKRI dilahirkan pada hari Sabtu 6 Maret 1953. merupakan anak kelima dari 12 bersaudara, dari bapak yang bernama Amin kemudian diganti menjadi Abullah setelah Naik Haji dan ibunya Zaenab. SYUKRI yang terlahir dilingkungan keluarga Tokoh Tani, sehingga kehidupan pada waktu itupun tidak lepas dari gaya hidup ala petani. Banyak sekali pengalaman-pengalaman kehidupannya yang selalu di jadikan motivasi bagi jalan pikiran dan kehidupannya.
Salah satu cerita yang menarik, yang pada akhirnya selalu menjadi catatan dan menjadi sebuah langkah awal jalan sejarah yang ia bentangkan di kanvas kehidupan. Ketika ia mengejar kerbau-kerbaunya yang tiba-tiba saja masuk kekebun milik orang lain. Disini SYUKRI kecil mendapatkan hal yang terbutuk dalam hidupnya, karena,disaat itu si pemilik kebun segera melabrak SYUKRI tanpa kompromi terlebih dahulu. Dia tidak berkutik sama sekali, ia merasakan seperti sedang berhadapan dengan malaikat pencabut nyawa. Sang anak gembala yang malang hanya tertunduk penuh ketakutan dan termangu mendengarkan suara keras seperti geledek yang berasal dari suara pemilik kebun.
Dengan wajahnya yang lusuh, sambil megiringkan kerbaunya pulang yang tidak menampakan wajah bersalah dan rasa penyesalan sama sekali. Dan bila musim tanam padi tiba SYUKRI selalu latihan membajak sawah dengan menggunakan kerbau gembalaannya. Dari peristiwa itu, SYUKRI sering merenung meratapi dan bertanya pada diri sendiri”Alangkah malangnya menjadi pengembala kerbau, apa tidak ada jalan kehidupan lain yang lebih baik selain menjadi petani? Kalau semua keluarga jadi petani, lalu bagaimana lahan hidup berikutnya, karna kerbau akan terus beranak, maka lahan harus dibagi-bagi, sampai pada akhirnya tidak tersisa, lalu akhirnya tak ada lahan yang bisa di cangkul selain kepala saudara!. Dengan berfikir begitu, akhirnya SYUKRI menyadari betapa pentingnya melanjutkan sekolah.
SYUKRI adalah satu-satunya yang sekolah hingga tuntas dan dan memiliki jalan hidup yang berbeda sama sekali dari saudara-saudaranya yang lain. Warisan hidup yang paling berharga baginya adalah keteladanan-keteladanan hidup, yang sudah dia peroleh dari ayah dan ibunya. 3 keteladan hidup yang selalu ia pegang diantaranya; jangan membalas kejahatan yang dilakkukan orang terhadapnya dengan kejahatan yang sama, tidak berpenampilan sombong melebihi latar situasi dan kemampuan diri sendiri, dan jangan sekali-kali mau mengurus hal-hal yang berbau keuangan, karna itulah sumber fitnah.
Pendidikan perdanannya di Madarasah Wajib Belajar, yang kini setara dengan SD.Tentunya bersekolah waktu dulu tidak semudah sekarang yang semuannya tampak tersedia, apalagi ditengah-tengah `Fatwa` yang berkembang ketika itu, yakni haram hukumnya bersekolah. Tetapi meski dengan keadaan yang apa adanya dan berbagai ketakutan, dapat dilalui bahkan semasa disekolah perdanannya SYUKRI selalu berada di Rangking Pertama.
Lain di MWB (Madrasah Wajib Belajar), lain pula di sekolah lanjutannya yaitu di Tsanawiyah Al-Baqiyatus Shalihat, yang ketika itu tidak lebih hanya dari 20 siswa. Meski sudah setangah-setengah bahwa diperbolehkannya sekolah tetapi tidak dihalalkan untuk memakai celana panjang, jadi para sisiwanya hanya emakai sarung layaknya seperti di pesantren-pesantren.
Pendidikannya tidak hanya sebatas itu, rasa haus akan dunia pendidikan dan ilmu pengetahuan yang luas selalu ia raih kemanapun dan bagaimanapun keadaaannya. Setelah lulus dari Tsanawiyah, SYUKRI langsung masuk ke sekolah Persiapan Institut Agama Islam Negeri (SP-IAIN) di Batutulis Bogor dari tahun 1971-1974). Disinilah SYUKRI mulai mengalami pergeseran pemikiran, akan tetapi dia tetap selalu ingat akan amanat K.H. Makmun Nawawi: “Kemanapun melanjutkan sekolah, kopiah tetap tidak boleh lepas’.
Saking patuhnya dan begitu memegang amanat dari gurunya, pada acara Mapras sekarang dikenal Ospek, yang pada waktu itu pelaturannya harus menanggalkan busana pesantren, semua orang tunduk, kecuali SYUKRI. Saking bandelnya, akhirnya membuat salah satu panitia marah karena tidak bisa terima aturannya dilecehkan. Akhirnya kopiah itu dijambret lalu dinjak-injak sambil mengeluarkan cacian. Tapi saking takzimnya SYUKRI terhadap gurunya yaitu K.H Makmun Nawawi, setelah di injak-injak, peci yang sudah tak berbentuk itu diambil lagi oleh SYUKRI.
Selepas SP-IAIN, tahun 1974, SYUKRI memiliki keinginan untuk tetap melanjutkan pendidikannya namun dengan tidak membebani orang tuannya, sehingga SYUKRI memiliki cita-cita untuk melanjutkan ke sekolah yang ada beasisiwanya. Bersama kawan lamanya Nina, SYUKRI pergi ke Bandung selama perjalananpun beberapa Perguruan Tinggi sempat mereka jajaki. Tapi pada Akhirnya, SYUKRI pun menjatuhkan pilihannya ke IAIN Sunan Gunung Djati. SYUKRI pun memilih untuk tinggal di Pesantren, kemudian SYUKRI pun pergi ke Pesantren Sindadng Sari yang kini Al-Jawami dikawasan Bandung Timur, Cileunyi. Tentunya tidak semudah masuk kepesantern seperti sekarang, yang awalnya tidak diterima, akhirnya bisa diterima dengan strategi SYUKRI harus mengaku tidak sekolah. SYUKRI sempat disuruh tidur dibawah menara selama tiga hari tiga malam, tidur dibawah bedug besar.
Setiap pergi kuliah, tentu saja SYUKRI secara sembunyi-sembunyi. Keluar dari kawasan pesantren dia memakai sarung dan peci, dan nanti di pinggir jalan, dia membuka semua atribut kebesaran itu dan dititipkan ketukang warung (Pak Opik), tetapi setelah tiga tahun akhirnya ketahuan juga oleh Mama Ajengan. Tahun 1977, SYUKRI menuntaskan program Sarjana Muda-nya dari Fakultas Usuludin IAIN Sunan Gunung jati Bandung dengan risalah yang berjudul; Bantahan terhadap Konsep Ketuhanan dalam Komunisme. Ditahun 1978, SYUKRI menjutkan kejenjang doktonal atau sarjana lengkap, jurusan Dakwah, Fakultas Usuludin. Lulus pada tahun 1981, dengan jidul skripsi: Urgensi Praktikum Dakwah Mahasiswa Fakultas Ushuludin.
Selama dalam dunia pendidikan, SYUKRI tidak luput dari organisasi-organisasi yang ada di setiap sekolahnya, karna organisasi merupakan hobinya. Bagi SYUKRI organisasi bisa dikatakan sebagai istrinya yang lain setelah istrinya di rumah. Bakat berorganisasi ini, mulai muncul ketika di bangku Madrasah, tetapi pada waktu itu belum ada organisasinya, akhirnya SYUKRI pun disalurkan pada wilayah lain, seperti; menjadi komandan dalam pengadaan bendera kelompok gank-nya dalam sepakbola. Ataupun dalam mengkoordinasikan teman-temannya untuk masuk kerumah orang yang hajatan, tentu saja untuk melakukan pekerjaan apa saja, seperti cuci piring, mengambilkan air atau hal-hal lain yang serupa dengan itu.
Begitupun didunia sekolah dan kampus, organisasi INTRA dan EKSTRA tidak luput dari incarannya. Seperti aktif di IPNU (Ikatan Pelajar Nahdatul Ulama),KSYUKRIP sekarang dikenal dengan OSIS, PII, HMI,CDSM (Corp Dakwah Senat Mahasiswa) yang sekarang dikenal dengan LDM,MUI, MDI, KNPI, ICMI,LPTQ, dan masih banyak lagi organisasi-organisasi yang digelutinya yang menghasilkan beberapa lembaga-lembaga islam, dan mesjid.
Sebelum menjadi Dekan Fakultas Dakwah pada tahun 1999 sampai 2006, tentunya SYUKRI mulai dari bawah. Karier sturktular di IAIN dimulai sebagai staf pemegang nilai jurusan Dakwah Fakultas Usuludin. Tahun 1982-1985 menjadi sekretaris jurusan, sempat juga menjadi sekretaris Fakultas Usuludin (Kepala Bagian Tata Usaha). 1990-1992 Ketua Jurusan Tafsir Hadis, 1993-1995 kembali naik menjadi Pembantu Dekan III Fakultas Usuludin. Setelah terbentuknya Fakultas Dakwah, SYUKRI hijrah dan menduduki posisi sebagai Pembantu Dekan I tahun 1996-1999.
Perjalanan karirnyapun tidak semulus kain sutra, tidak setenang angin sepoy-sepoy yang menyibak padi, juga tak seindah karang dilautan. Selalu ada batu besar dijalanan panjang. Disamping dipuji dengan terobosan-terbosan yang selalu Up to Date nya, Moderen juga terbaru, SYUKRI juga banyak dikritik dengan gayanya. Tapi tidak dijadikan sebagai masalah baginya ataupun menjadi lemah karena. Justru kritikan-kritikan selalu diterimanya dengan besar hati, dan diposiskan sebagai pemicu untuk menentukan kbijakan-kebijakan dalam setiap langkah kepemimpinannya.
Nama Syukriadi Sambas melesat kencang bak roket yang baru diluncurkan, ketengah-tengah masyarakat, begitu seperti cepatnya kilatan bintang yang jatuh di sudut-sudut langit. Yaitu, salah satu prestasi terpenting yang dicatat SYUKRI selama memimpin Fakultas Dakwah adalah keberhasilannya menggandeng Pemerintah Propinsi Jawa Barat dalam menyediakan sumber daya Perawat Rohani Islam (WAROIS) yang bertugas dirumah sakit. Prestasi ini bisa disebut monumental, karena merupakan sebuah terobosan baru dalam proyeksi dakwah. Proyek ide Syukri ini disaksikan dan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia pada hari Rabu, tanggal 15 Mei 2002 di pesantren Darul Ma`arif Cigondewah Kabupaten Bandung. Kini, para alumni pelatihan WAROIS sudah mulai bekerja di RSUD masing-masing daerah. Kalangan muslim di Jawa Baratpun menyambut dengan sangat antuias kehadiran para petugas WARIOS-nya, menunjukan betapa masyarakat sudah sangat lama mendambakan munculnya Perawat Rohani Islam.
Demikian sehingga pantas jika K.H. Syukriadi Sambas yang mendapatkan embel-embel akademis Drs dan M.Si ini walaupun belum menjadi professor atau guru besar namun pantas dijuluki sebagai Mbah-Nya dakwah karena selain keilmuannya sudah sejajar dengan para Profesor Dakwah seperti Yunan Yusuf, idenya di Bidang dakwah sangat bermanfaat secara praktis bagi dunia kesehatan dan social keagamaan lainnya seperti adanya desa binaan.