Jumat, 6-Okt-2017 | 07:12:11
Adeng Muchtar Ghazali
Memposisikan Perbandingan Agama sebagai Nama Ilmu & Jurusan

Hingga sekarang, persepsi sebagian orang, termasuk di kalangan IAIN/UIN dan umat Islam Indonesia sendiri, tentang “Ilmu Perbandingan Agama” masih terasa kurang pas, bahkan cenderung berkesan negative, bahwa tujuan ilmu ini hanya untuk membanding-bandingkan agama satu sama lain.  Kesan seperti ini tidak perlu untuk disalahkan, namun perlu ada pencerahan untuk diluruskan. Diperlukan pemahaman komprehensif agar terhindar dari kesalahan persepsi terhadap ilmu ini. Memang harus diakui dan dimaklumi, kesan “kurang pas” dan “negative” itu terbangun setidaknya oleh tiga hal ini, yaitu : pertama, ilmu perbandingan agama adalah produk Barat yang sudah barang tentu teori yang digunakan adalah teori Barat.

Istilah “Barat” cenderung ditujukan pada dominasi Kristen dan peradaban modern; kedua, tidak mengetahui dan memahami apa yang dipelajari oleh ilmu perbandingan agama, baik dari sisi ontologis, epistimologis, dan aksiologisnya; dan ketiga, kekurangan informasi tentang asal-usul penamaan “ilmu perbandingan agama”. Ilmu perbandingan agama pada dasarnya mempelajari agama-agama, baik dari sisi doktrin dan prakteknya, dengan menggunakan metode ilmiah (scientific method). Disebut “ilmiah”, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya,  karena menggunakan beberapa pendekatan keilmuan, seperti sejarah, antropologi, sosiologi, fenomenologi, psikologi, dan analisis perbandingan.

Penamaan “ilmu perbandingan agama” adalah nama terjemahan local (Indonesia) dari “comparative study of religion” yang merupakan salah satu bagian dari beberapa pendekatan sekaligus sebagai padanan kata dari istilah Inggris “Science of Religion” atau Religionswissenschaft (Jerman). Dalam arti lain, istilah religionswissenschaft tidak harus baku diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai “ilmu perbandingan agama”, tetapi dapat diartikan pula dengan istilah lain seperti “Ilmu Studi Agama”, “Sejarah Agama”, dan “Fenomenologi  Agama”. Bagaimanapun, ilmu ini memberikan tambahan yang berharga bagi perkembangan ilmu pengetahuan, baik di dunia Barat maupun Timur sekarang ln.  Menarik untuk pandangan Max Muller, sebagai perintis ilmu ini, bahwa : “Sejarah manusia sesungguhnya adalah sejarah agama karena disadari bahwa agama merupakan jalan menuju pengetahuan yang benar.

Agama mendasari sejarah manusia dan merupakan sinar dan nyawa sejarah, dan tanpa agama sejarah apapun menjadi tidak suci. Maka, Mukti Ali selalu menganjurkan kepada para mahasiswanya untuk mendekati dan memahami agama dengan menggunakan pendekatan yang disebut “scientific-cum-doctriner” – pendekatan keilmuan terhadap agama, the science of religion, the scientific study of religion, atau juga sering disebut dengan the Comparative Study of Religions, Religionswissenschaft, atau juga Muqaranatul Adyan. []

 

Sumber, Religious: Jurnal Studi Agama-Agama dan Lintas Budaya, Vol 2, No 2, 2016