Senin, 25-Jan-2016 | 08:45:14
Pepen Supendi
Karateristik Kepemimpinan Kiai dalam Memelihara Budaya Organisasi dan Kontribusinya terhadap Mutu Pendidikan Pesantren

Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis pembahasan tentang kepemimpinan kiai dalam memelihara budaya organisasi dan kontribusinya terhadap mutu pendidikan pesantren yang dilakukan di Pondok Pesantren Al-Ashriyah Nurul Iman Islamic Boarding School Kabupaten Bogor dan Pondok Pesantren Amanah Muhammadiyah Kota Tasikmalaya, dapat disimpulkan bahwa:

1.Kepemimpinan kiai dalam memelihara budaya organisasi di kedua pesantren tersebut, ditandai dengan adanya: (a) proses seleksi yang disesuaikan dengan pedoman dan aturan masing-masing, bertujuan tidak saja untuk mengetahui tingkat pengetahuan, kemampuan dan keterampilan, tetapi lebih kepada untuk mengetaui latar belakang nilai-nilai individu dan kepribadian para caoln santri dan calon ustad. Proses seleksinya melalui sistem proses seleksi tertutup untuk seleksi calon ustad dan pengurus pesantren. Untuk seleksi santri sama-sama menerapkan sistem terbuka dengan tingkat keketatan yang berbeda-beda sesuai dengan aturan masing-masing; (b) adanya sosialisasi yang dilakukan oleh para pimpinan dan para guru, agar santri baru dapat mengerti dan memahami tentang nilai-nilai pesantren melalui kegiatan-kegiatan baik eksternal maupun internal melaui media cetak maupun elektronik; (c) tindakan manajemen puncak, kedua pesantren melakukan sejumlah penyesuaian dalam pengelolaan pesantren, salah satunya ialah diterapkannya asas-asas pengelolaan perusahaan dalam rangka menunjang pengelolaan akademik. Konsekuensi keberadaan pemimpin pesantren mengalami perkembangan dalam tugas dan fungsi yaitu bukan lagi hanya sekedar berperan sebagai pemimpin pengajar (instructional leadership) yang transaksional melainkan juga dtuntut sebagai pemimpin pendidikan (educational leadership) yang tranformasional dengan indikator: visioner, komunikator, motivator, inovator, dan educator.

2.Bangunan budaya organisasi yang sudah kiai bangun sebagai pemimpin di kedua pesantren tersebut, ialah (a) sejarah yang sudah mulai matang dengan rata-rata usia 17 tahun, memiliki apa yang disebut dengan organizational saga, yaitu pemahaman kolektif berdasarkan sejarah mengenai keberhasilan organisasi, yang memiliki landasan normatif bagi anggota organisasi baik ke dalam maupun ke luar. (b) nilai sebagai dasar berperilaku pesantren. Nilai-nilai di Pesantren Nurul Iman terkonsep dan tersusun pada tema pancajiwa, yaitu: jiwa keikhlasan, jiwa kesederhanaan, jiwa kesanggupan menolong diri sendiri, jiwa ukhuwah diniyah yang demokratis antara santri; dan jiwa bebas. Nilai-nilai Pesantren Amanah Muhammadiyah, yaitu: nilai kejujuran, nilai ibadah, nilai amanah, nilai tawaddu’, dan nilai keadilan. (c) budaya keilmuan yang dibentuk kedua pesantren memiliki beberapa karakteristik, yaitu: (1) karakter keilmuan di Nurul Iman ialah bahasa Arab, bahasa Inggris, bahasa Mandarin, bahasa Jepang, dan pendidikan berbasis kewirausahaan. Pesantren Amanah Muhammadiyah bahasa Arab dan bahasa Inggris serta keilmuan al-Quran dan Hadis, sehingga kedua pesantren tersebut kukuh dalam memelihara budaya organisasi (keeping a culture alive); (2) sistem pembelajaran kedua pesantren dilakukan secara terintegrasi, kebijakan kurikulum agama 100% dan kurikulum umum 100%, kelulusan sekolah ditentukan ujian nasional (UN) dan ujian yang diselenggrakan oleh pesantren;  (3) persepsi positif terhadap kedua pesantren ialah penampilan fisik yang besar dan kondusif dengan indikasi gedung yang baik, luas pesantren berhektar-hektar, fasilitas belajar cukup lengkap, guru sesuai dengan kompetensi keilmuan masing-masing; (4) suasana belajar dan kerja yang kondusif, kedua pesantren tersebut menunjukkan suasana belajar dan kerja yang saling bantu membantu, penuh keikhlasan, penuh semangat, suasana belajar yang dinamis, dan tidak tegang, walaupun memiliki kegiatan yang cukup padat mulai pagi hari sampai malam hari dan disiplin; (5) pengelolaan pembelajaran dan sarana penunjang yang konstruktif, kedua pesantren menunjukkan tingkat pelayanan yang baik dalam pengelolaan pembelajaran dan sarana penunjang yang konstruktif kepada para santrinya. (6) program pesantren rasional dan relevan, ada perbedaan program dari kedua pesantren, tetapi program pendidikan tersebut dipandang masyarakat rasional dan relevan dengan kebutuhan santri dan masyarakat, hal ini tercermin dari tujuan pesantren, yaitu: memberi bekal kepada lulusannya untuk memiliki ilmu pengetahuan dan teknologi, membentuk santri yang berkepribadian, beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui pembelajaran keagamaan, dan membentuk generasi muda yang mampu hidup mandiri melalui kewirausahaan yang ada. (d) budaya pengelolaan kedua pesantren memiliki beberapa karakteristik, yaitu: (1) motivasi bermutu dan semangat kerja, peran kiai dalam membangkitkan dan meningkatkan motivasi dan semangat kerja dari kedua pesantren ini memiliki kemiripan, yaitu memberikan keteladanan (uswatun hasanah); (2) keterlibatan semua unsur, pertemuan rutinitas yang diadakan untuk membicarakan semua aktivitas dan program pesantren merupakan bukti keterlibatan para pengasuh, pengurus pondok dan para ustad dalam turut serta mendukung usaha-usaha perbaikan pendidikan pesantren; (3) dukungan masyarakat yang kuat; dan (4) kepemimpinan kiai yang efektif, karakteristik kepemimpinan kiai yang efektif kedua pesantren tersebut, yaitu: menciptakan iklim yang kondusif bagi santri-santri yang belajar, para guru terlibat dan tumbuh, dan seluruh masyarakat memberikan dukungan dan menaruh harapan yang tinggi.

3.Kontribusi kepemimpinan kiai dalam memelihara budaya organisasi di kedua pesantren, menunjukkan kemampuannya dalam memuaskan kebutuhan yang diharapkan dari konsumen pendidikan mulai dari input, proses, output, dan outcome, yang ditandai dengan adanya perumusan visi, misi dan target mutu yang jelas, kepemimpinan pendidikan yang handal, lingkungan pendidikan yang aman dan tertib, harapan prestasi dan output yang tinggi, pengembangan tenaga pendidik dan tenaga kependidikan, interaksi komunikatif antara lembaga pendidikan, dan evaluasi belajar yang efektif dan efisien. Indikator tersebut, telah memenuhi standar yang berlaku dan bisa dilakukan dengan kepemimpinan yang efektif, sehingga model kepemimpinan efektif merupakan alternatif untuk membangun budaya organisasi pondok pesantren yang efektif yang memberikan kontribusi nyata terhadap mutu pendidikan pesantren.

4.Keunggulan di kedua pesantren, yaitu: (a) sistem pembelajaran 24 jam (Boarding School); (b) kurikulum yang terintegrasi dan komprehenship. Pesantren merancang program pendidikan yang komprehenship-holistic dari program pendidikan keagamaan, umum, life skill, sampai membangun wawasan global; (c) fasilitas yang lengkap, guru yang berkualitas, lingkungan yang kondusif, santri yang heterogen, dan jaminan keamanan; (d) pelaksanaan pendidikan menerapkan pendidikan klasikal yang bersifat sekolah; (e) alur kebijakan dan wewenang penyelenggaraan pendidikan pesantren dikeloa secara mandiri oleh pesantren. Sedangkan lembaga sekolah berada pada “intervensi” dari pemerintah meskipun status sekolah berstatus swasta yang dikelola oleh yayasan dan organisasi; (f) inovasi pengajaran dan penciptaan iklim belajar yang kondusif bagi santri senantiasa menjadi pusat perhatian dari kiai sebagai pemimpin pesantren; dan (g) khusus di Pesantren Nurul Iman seluruh santri bebas biaya dengan slogan: “Free and Quality Education Supported by Entrepreneurship” (mencetuskan lembaga pendidikan yang bukan saja bebas biaya namun berkualitas dengan kewirausahaan sebagai penopangnya).

Adapun rekomendasi dari penelitian ini, peneliti merekomendasikan beberapa hal baik kepada Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman Bogor dan Pesantren Amanah Muhammadiyah Tasikmalaya, kepada pemerintah, dan peneliti lanjutan, yaitu:

1.Pimpinan/Pengelola Pondok Pesantren: (a) hendaknya tetap mempertahakan filosofis pesantren yang telah dibangun oleh para pendiri pesantren, sejarah membuktikan banyak pesantren yang tutup karena memudarnya landasan filosofi di pesantren tersebut; (b) terus mempertahakan nilai-nilai pesantren sebagai dasar perilaku pesantren dan nilai-nilai tersebut telah melembaga menjadi budaya dan budaya organisasi tersebut telah mempresentasikan keunggulan pendidikan pesantren, perubahan nilai menyebabkan perubahan budaya, dan berimplikasi pada terkikisnya keunggulan pendidikan pesantren; (c) hendaknya menjaga sistem pendidikan yang telah teruji bertahun-tahun, perubahan sistem pendidikan akan berakibat pada perubahan keunggulan kelulusan pesantren; (d) hati-hati terhadap pengaruh eksternal yang bervisi fatamorgana, dan yang bereksistensi virus bagi keberlangsungan pesantren, maka perlu sikap yang selektif dengan prinsip: al-muhâfadatu ‘alâ qadîmi as-sâlih, wa al-akhdu bi al-jadîdi al-aslah; dan (e) kaderisasi di kedua pesantren mutlak harus dilakukan bahkan dilembagakan, sering kali pesantren menjadi lemah bahkan sulit dipertahankan oleh karena tidak ada program kaderisasi.

2.Pemerintah yang terkait, yaitu: (a) ikut menjaga eksistensi pondok pesantren yang sudah menjadi indegonius (wajah asli) pendidikan Indonesia dari kepunahan; (b) ikut memberi peluang untuk berkembangnya pondok pesantren dengan tetap memelihara keaslian pendidikannya; dan (c) memberikan kebijakan yang bersifat solutif bagi keberlangsungan eksistensi pendidikan pesantren, dan tidak merusaknya dengan berbagai aturan yang dikelurkannya.

3.Peneliti lanjutan bagi yang tertarik pada dunia pendidikan pesantren. Dikarenakan penelitian ini mengandung sejumlah keterbatasan, maka penting untuk dilakukan penelitian lebih lanjut tentang: kontribusi komitmen organisasi, kedisiplinan kerja, dan kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan lembaga pendidikan di nagungan pondok pesantren, model pendidikan karakter di pesantren modern dan tradisional, transformasi kekinian pesantren, karena poin tersebut penting yang juga patut diteliti dalam memposisikan pesantren dengan realitas kekinian yang plural ialah posisi masyarakat.[]