Jumat, 2-Nov-2012 | 14:12:35
Oleh Tri Wahyu Agustina
Refleksi Hari Sumpah Pemuda

“Barang siapa ingin menggenggam nasib suatu bangsa, maka genggamlah para pemudanya”. (Umar R.A)

Pernyataan popular  Ir. Sukarno “Berikan 10 orang pemuda dan aku akan mampu memindahkan sebuah gunung dan berikan aku 100 orang pemuda maka aku akan dapat menggerakkan dunia”. Berbicara masalah pemuda berarti berbicara tentang masa depan karena dia adalah generasi pewaris yang akan mengganti estafet kepemimpinan sebuah generasi. Sosok pemuda mempunyai nilai sejarah tersendiri. Perubahan masa ke masa tidak lepas dari tangan pemuda, sebut saja revolusi Perancis, langkah tentara Mongol untuk menguasai dunia dihentikan oleh seorang panglima muda dari Mesir bernama Saifuddin Qutz dalam Perang ‘Ain Jalut, ada pula Muhammad Al Fatih (21 tahun) pembebas Konstatinopel, ibukota Romawi Timur, tragedy Tianamen (1989) di Cina digerakan oleh Pemuda, termasuk kejatuhan rezim Tunisia dan Mesir di tahun 2011 tidak lepas dari tangan pemuda.

Di Indonesia, pemuda aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan di masa penjajahan Belanda melalui Budi Utomo, gerakan Muhammadiyah nya, Syarikat Dagang Islam nya, dan sebagainya. Peran pemuda dalam Kemerdekaan RI 1945, perubahan dari Orde Lama ke Orde Baru 1966, dari Orde Baru ke Orde Reformasi 1988, atau beragam aksi tuntutan terhadap penguasa saat ini  yang selalu dikomandoi oleh para pemuda.

Karakter Pemuda

Pemuda identik dengan sebagai sosok individu yang berusia produktif dan mempunyai karakter khas yang spesifik yaitu revolusioner, optimis, berpikiran maju, memiliki moralitas, kemurnian idealismenya, keberanian dan keterbukaan menerima hal-hal baru, semangat pengabdiannya, spontanitas, inovatif, kreatif, keinginan untuk segera mewujudkan hal-hal yang baru, keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap yang mandiri,  dan masih langka dalam pengalaman. Hanya saja melihat realitas saat ini, kelemahan yang nampak dari sosok seorang pemuda adalah kontrol diri dalam arti mudah emosional. Sedangkan kelebihan pemuda yang paling menonjol adalah mau menghadapi perubahan, baik berupa perubahan sosial maupun kultural dengan menjadi pelopor perubahan itu sendiri melawan status quo (tirani) seperti yang digambarkan dalam sejarah bangsa-bangsa. Bercermin dari karakter pemuda, digambarkan memiliki dua sisi yang saling bertolak belakang. Di satu sisi, ia disanjung karena semangat mudanya dalam memimpin perubahan, penentu nasib bangsa, akan tetapi di sisi lain, pemuda khususnya remaja dituding sebagai pihak yang identik dengan kenakalan sehingga dengan mudah kita dengar istilah “kenakalan remaja”.

Memasuki Oktober karena ada momen Sumpah pemuda, layak untuk direnungkan mampukah pemuda masa kini mengukir sejarah kembali seperti para pemuda di masa lalu ??? sepertinya saat ini kita kehilangan sosok pemuda seperti Usamah bin Zaid sang komandan, Tariq bin Ziyad yang kuat, Abdullah bin Mas’ud yang amanah, Abdullah bin Abbas yang berilmu, Zaid bin Tsabit yang cerdas, Ali bin Abi Thalib yang perkasa, dan Muhammad al-Fatih sang penakluk. Kita justru mudah mendapati para pemuda seperti kondisi Kan’an bin Nuh yang menolak kebenaran, sosok Samiri yang menyesatkan, atau sosok Abdullah bin Ubay bin Salul yang munafik, atau sosok-sosok lainnya yang bodoh dan jahil dalam ilmu.

Potret Pemuda Saat Ini

Saat ini,  kondisi pemuda Indonesia dilaporkan  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)  mencatat enam bulan pertama tahun 2012 ditemukan 139 tawuran antar pelajar, 12 diantaranya berakhir meninggal sia-sia. Termasuk kejadian tewasnya dua orang mahasiswa di Makasar akibat tawuran baru-baru ini.  Kasus narkoba yang berhasil di survey oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) menunjukkan prevalensi penyalahgunaan narkoba di lingkungan pelajar mencapai 4,7% dari jumlah pelajar dan mahasiswa.  Sementara itu Komnas Perlindungan Anak mencatat terdapat 2,5 juta aborsi diantaranya 62.6% dilakukan oleh anak di bawah usia 18 tahun. Majalah Times (2006) memberitakan bahwa Indonesia diketahui sebagai  negara pada urutan ketujuh dunia sebagai negara pengakses situs-situs porno, ternyata sebagai pengakses situs porno dari Indonesia berasal kalangan pelajar. Prosentase terbesar diduduki oleh pelajar SMA sejumlah 38% diikuti oleh mahasiswa sebesar 33,6% dan ternyata dari kalangan siswa SMP juga menjadi pengakses situs porno17,3% sisanya sebesar 11% ditempati oleh masyarakat non pelajar.

Meskipun, kita akui banyak pemuda Indonesia yang berprestasi di bidang akademik dengan berbagai medali di ajang olimpiade matematika, fisika, kimia, biologi, komputer, astronomi, linguistik, geografi baik tingkat nasional dan internasional. Ada juga pemuda yang fokus terhadap olahraga dengan mengikuti berbagai turnamen olahraga, atau pemuda yang berminat terhadap kegiatan music apalagi dengan arus K-Pop dan Gangnam style nya yang fenomenal, serta ada pula ribuan pemuda yang memilih jalan untuk aktif di Rohis yang justru dianggap sebagai sarang pembibitan terorisme. Inilah fakta sesungguhnya tentang beragamnya aktivitas pemuda di Indonesia.

Berdasarkan UU No 40 tahun 2009 tentang Kepemudaan bahwa pemuda adalah warga negara Indonesia yang memasuki periode penting pertumbuhan dan perkembangan yang berusia 16-30 (tiga puluh) tahun. Para ulama menyatakan bahwa pemuda adalah manusia yang sudah memasuki fase aqil baligh yang ditandai dengan mimpi basah bagi pria biasanya pada usia 11 – 15 tahun dan keluarnya darah haid bagi wanita biasanya saat usia 9 – 13 tahun. Pemuda terbagi ke dalam dua fase yaitu fase puber/remaja berusia antara 10 sampai 21 tahun, dan fase dewasa awal berusia antara 21 sampai 35 tahun. Sebagian lagi berpendapat bahwa siapapun yang berusia dibawah 40 tahun semenjak ia menjadi baligh bisa disebut sebagai pemuda. Hal tersebut berpatokan pada usia kerasulan Muhammad SAW yaitu 40 tahun.

Tantangan Global Menghadang Pemuda

Pemuda saat ini hidup dalam kondisi masyarakat yang semakin individualis, semua diukur dengan serba materi dan kepungan budaya liberal yang mempropagandakan kebebasan. Kondisi ini bermula dari akidah sekulerisme yang menyebabkan aturan agama hanya ditempatkan pada ranah-ranah ibadah ritual sementara aturan kemasyarakatan dikembalikan kepada manusia. Sistem sekuler tersebut menjamin kebebasan dasar yang dimiliki setiap orang (kebebasan berkeyakinan, berpendapat, berperilaku dan kepemilikan). Dalam sistem sekuler setiap orang boleh mengekspresikan dirinya selama dianggap tidak merugikan pihak lain. Itulah yang dilegalkan dalam sistem hukum yang ada. Wajar jika berdampak pada pemuda yang semakin permisif dan semakin jauh dari tuntunan Illahi. Akhirnya, penerapan system sekuler ini membuahkan hasil berupa tawuran, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, pornografi, AIDS/HIV dan sebagainya.

Ironis, bila pemuda terus menerus dibiarkan terjerembab dalam lumpur  liberalisme, padahal diperkirakan jumlah pemuda Indonesia tahun 2015 sebanyak 87 juta jiwa. Bahkan di tahun 2020, Indonesia akan mengalami “Bonus Demografi” di mana angka penduduk usia muda produktifnya akan jauh lebih besar dari angka penduduk usia lainnya. Jumlah yang besar ini dapat menjadi potensi sebagai motor penggerak perubahan apabila dibarengi dengan pemuda yang berkualitas. Dengan demikian,  proses pendewasaan pemuda harus mendapatkan perhatian yang serius karena mereka akan menjadi generasi penerus, pengganti, dan perubah zaman. Lalu bagaimanakah dengan konsep Islam  dalam pemberdayaan pemuda ???

Pemberdayaan Pemuda versi Rasulullah SAW

Kepedulian kita terhadap pemuda mengharuskan kita untuk memiliki visi  berupa politik, ekonomi, pendidikan, isu sosial yang bersifat global untuk kehidupan. Visi tersebut dapat menjadi teladan bagi pemuda di seluruh penjuru dunia. Firman Allah: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam” (QS. 21:107) yang artinya Rasulullah diutus tidak hanya untuk kaum tertentu tapi untuk seluruh alam. Dengan demikian visi ini harus melampaui sekat-sekat nasionalis, suku, dan ras. Bercermin kepada pemberdayaan pemuda ala Rasulullah SAW dikutip dari Firmansyah (2008) dalam Seminar Nasional Pendidikan “Membangun Kepribadian Bangsa” yang diselenggarakan di Bangkalan 1 Mei 2008 menyatakan bahwa kunci kesuksesan Rasul  dalam mendidik umat tidak hanya dari sifat Rasulullah memang yang paling khas adalah Shiddiq, Fathonah, Tabligh, dan Amanah. Namun, secara spesifik dijumpai pada diri Rasulullah SAW sebagai  pendidik, antara lain : kasih sayang (QS.Al-Fath : 29), sabar (QS.Al-Baqoroh : 153), cerdas mampu menganalisis setiap masalah yang muncul dan memberikan solusi yang tepat, tawadhu kepada siapa saja baik kepada yang tua maupun yang lebih muda, bijaksana, pemberi maaf, kepribadian yang kuat, dan optimis terhadap tugas pendidikan. Metode yang dilakukan Rasulullah meliputi :

Pertama, Spiritual-Mentality Building, Rasulullah meletakkan pondasi mental berlandaskan aqidah yang kuat terhadap kaum muslimin semasa itu termasuk para pemudanya . Pembentukan mental Islam yang kuat akan menghindarkan pemuda dari pelanggaran hukum syara lainnya.

Kedua, Applicable. Allah SWT tidak pernah memerintahkan keimanan kecuali disertai dengan tindakan nyata. Rasulullah melakukan penguatan pengetahuan teoritis dengan aplikasi praktis.

Ketiga, Balance in Capacity. Rasulullah memberikan penugasan dan menjelaskan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan pemahaman yang dimiliki oleh para pemuda. Metode ini sesuai dengan hadits Rasulullah. “jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, maka tunaikanlah sesuai dengan kemampuan kalian (yang paling maksimal). (HR.Muslim)

Keempat, Right Treatment for Diversity. Rasulullah memberi perlakuan berbeda dalam mendidik antara pria dengan wanita, antara orang badui dengan orang kota, antara orang yang baru masuk Islam dengan yang sudah lama memeluk Islam.

Kelima, Priority & Thing First Thing. Kemampuan untuk membuat prioritas dan memilah yang terpenting daripada yang penting sangat diperlukan untuk para pemuda. Prioritas dan mendahulukan hal terpenting dalam proses pendidikan Islami berarti menanamkan kebiasaan kepada para pemuda bertindak efektif dan efisien. Efektif artinya melakukan sesuatu yang benar sedangkan efisien berarti melakukan sesuatu dengan benar.

Keenam, Good Advice for Good Time. Pendidik umat harus mampu memberikan konseling kepada para pemuda yang sedang dilanda masalah ataupun berbuat kesalahan fatal tanpa disadarinya. Ada yang perlu diperhatikan dalam pemberian nasehat/advice kepada para pemuda yaitu kuantitas dan timing. Kuantitas maksudnya nasihat yang diberikan tidak banyak namun terkontrol dalam pelaksanaan pada generasi muda. Jika terjadi pengabaian pada nasihat pertama, maka bisa kemudian diberi nasehat yang selanjutnya dan lebih berbobot. Lantas, mengenai waktu/timing penyampaian nasihat harus tepat. Pemilihan waktu yang tepat saat memberikan nasehat akan memberikan dampak perubahan yang luar biasa kepada generasi muda.

Ketujuh, Achievement Motivation. Motivasi berprestasi dimasukkan dalam proses pendidikan Islami karena mengandung dorongan positif yang kuat dari dalam diri manusia berefek pada sikap dan tindakannya mengarah pada hal yang positif pula.

Kedelapan, Coercive and Reward. Sanksi dan Penghargaan bisa dianggap sebagai upaya memotivasi generasi muda. Rasulullah SAW mencontohkan mengedepankan penghargaan ketimbang sanksi karena Allah SWT mengutamakan menerima karena suka daripada karena takut. Menerima karena suka akan memunculkan kerinduan untuk melakukan apa yang diperintahkan dengan lapang dada.

Kesembilan, Self-Evaluation. Rasulullah mengajarkan kepada kaum muslimin waktu itu dalam metode pendidikan yang beliau jalankan adalah evaluasi diri (muhasabah). Pemuda selalu diajak untuk melakukan evaluasi diri dalam keterlibatannya pada proses pendidikan Islami akan memacu dirinya untuk melakukan perbaikan sehingga akan didapatkan peningkatan performance(kinerja) yang lebih baik lagi.

Kesepuluh, Sustainable Transfer. Proses pemberdayaan pemuda dalam rangka pembentukan diri dan prilaku membutuh kesinambungan proses baik transfer maupun control terhadap hasilnya. Proses pembinaan yang dilakukan oleh Rasulullah juga berjalan dalam jangka waktu yang tidak singkat. Waktu 13 tahun dihabiskan selama di Makkah dan dilanjutkan di Madinah di sisa usia beliau hingga kembali ke haribaan tidak pernah berhenti untuk terus dan terus mendidik umat.

Inilah output hasil pembinaan Rasulullah, sebutlah Zaid bin Tsabit ra. yang  fasih bahasa Ibrani dan bahasa Syria, sehingga Zaid  menjadi sekretaris Rasulullah ketika berunding dan berkomunikasi dengan bangsa-bangsa yang tidak bisa bahasa Arab. Usamah bin Zaid dipercaya sebagai panglima perang meskipun umurnya baru 17 tahun. Ja’far bin Abi Thalib yang berani berdiri di depan Raja Najasyi dari Habasyah (Ethiopia) untuk mewakili dan membela kaum muslimin, padahal ketika itu ia baru berusia 20 tahun, dan masih banyak lagi  shahabat yang lain. Inilah hasil gemblengan Rasulullah SAW telah mampu memberikan kontribusi yang luar biasa terhadap perkembangan Islam sampai Islam mampu menguasai 2/3 dunia. Pantas bila Rasulullah bersabda :”Perjuangan Aku didukung oleh pemuda, oleh sebab itu wasiat yang baik untuk mereka”.

Terakhir, Rasulullah, para shahabat, dan generasi terbaik masa lalu telah memberika teladan kepada kita bahwa hanya pemudalah yang membangun peradaban Islam dan mengisi peradaban Islam dengan jalan yang mulia.  Saat ini, kita tengah menantikan kembali para pemuda Islam untuk menjadi teladan bagi generasi lain, menjaga kesucian dan kehormatan dengan penuh harga diri, peduli terhadap perkara-perkara yang terjadi  ditengah masyarakat dan dunia.  Pemuda yang berjuang mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah kemungkaran serta berdiri di depan melawan ketidakadilan, pemikiran liberal, dan kezaliman dimanapun. Pemuda Islam hari ini adalah pemimpin dunia di masa depan, semoga, Amiin. Wallahu’alam bishawab.

“Tujuh orang yang akan dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tidak ada perlindungan selain perlindungannya (satu di antaranya ialah) pemuda yang sejak kecil selalu beribadah kepada Allah”. (HR. Syaikhani)

Penulis Adalah Dosen Pendidikan Biologi Fakultas Tarbiyah & Keguruan UIN SGD Bandung