Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Array
(
    [post_id] => 5023
    [post_status] => publish
    [post_type_id] => 
    [ptype_name] => 
    [ptype_slug] => 
    [post_author] => 209
    [post_date] => 2017-04-11 15:43:31
    [post_modified] => 2017-04-11 16:54:11
    [post_title] => Silaturahmi Dalam Haji dan Umrah
    [post_name] => silaturahmi-dalam-haji-dan-umrah
    [post_excerpt] => 
    [post_content] => 

Salah inti ajaran agama Islam adalah silaturahmi. Silaturahmi senantiasa melekat pada semua syari’at, baik solat, puasa, zakat, maupun haji dan umrah. Secara teoritis, silaturahmi berarti menjaga hubungan baik kepada Allah (hablumminallah) dalam bentuk penghambaan dan ibadah kepada Allah Swt. Dan menjalin hubungan kemanusiaan (hablumminannaas) dalam bentuk saling membantu, toleransi, menasehati dalam kebaikan dan kesabaranan, dan sebagainya. Secara praktis, silaturahmi juga mewujud hampir pada semua aspek kehidupan manusia. Ia senantiasa menjadi bagian penting dan jatidiri manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam konteks ibadah haji dan umrah, silaturahmi menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan persiapan lainnya (fisik material dan mental spiritual). Hanya saja ia memiliki bentuk yang berbeda tapi sarat dengan makna yang sama. Sebagai ilustrasi saja, bahwa salah satu motivasi utama seseorang melaksanakan ibadah haji dan umrah selain memenuhi panggilan Allah Swt, juga mempunyai tujuan utama lainnnya yakni menjalin silaturahmi minimal antar jamaah. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya, jika dalam prosesi ibadah haji dan umrah yang melibatkan jutaan jamaah tidak terjalin silaturahmi yang baik. Salah satu konsekwensinya adalah tidak terwujudnya pelayanan prima sebagaimana yang diharapkan.

Bagaimana wujud silaturahmi dalam haji dan umrah?...sepanjang pengalaman dan pengamatan penulis melayani jamaah haji dan umrah Qiblat Tour, silataurahmi itu mewujud pada beberapa hal :

Pertama, kerjasama dan sama-sama bekerja. Hal pertama ini menjadi sangat signifikan karena berhubungan dengan berbagai macam kepentingan dan kebutuhan para jamaah, baik yang b erhubungan dengan ibadah maupun teknis operasional. belum lagi persoalan background jamaah yang sangat bervariasi. Dapat dipastikan bahwa hampir semua persiapan haji dan umrah melibatkan semua unsur, baik pemerintah, calon jamaah, KBIH, Travel Haji dan umrah, penerbangan, maupun pengurusan hotel/maktab selama di Saudia. Belum lagi masalah kemanan dan keselamatan dalam perjalanan baik darat maupun udara. Hal tersebut dapat dilakukan dengan modal kekuatan kerjasama dan sama-sama bekerja secara terukur dan terarah. Secara praktis, kerjasama itu juga mesti nampak antar jamaah sebelum, selama dan pasca prosesi ibadah haji dan umrah dilakukan, baik dengan manajemen, pembimbing, petugas, maupun mutawwif. 

Kedua, Toleransi (tasammuh). Toleransi dalam haji dan umrah secara sederhana berhubungan dengan dua hal, yakni sikap dan prilaku jamaah yang berbeda dan toleransi pemahaman keagamaan (fiqh haji dan umrah yang bervariasi). toleransi ini menjadi penting karena berhubungan dengan ketenangan dan kepastian hukum jamaah dalam menjalanakan syraiat haji dan umrah. Ia juga berhubungan dengan keutuhan dan hubungan harmonis antar jamaah. 

Ketiga, sabar dan ikhlash. Kekuatan sabar dan ikhlash dalam haji dan umrah benar-benar dipertaruhkan. Sabar dalam ibadah selama di tanah suci. Sabar dalam menghadapai prilaku dan sikap jamaah yang berbeda-beda. Sabar dalam menhadapai musibah (sakit misalnya). Dan dibutuhkan kekuatan kesabaran lainnya. Ikhlash dalam konteks haji dan umrah adalah bagaimana selalu merespon apapun yang terjadi adalah taqdir terbaik yang telah ditentukan Allah. Iklhash mampu mengambil hikmah terbaik apapun yang terjadi. Ikhlash juga selalu berpikir positif dengan prinsip tiga hal, antara lain : syukuri, nikmati, dan maknai setiap jengkal perjalanan haji dan umrah. 

Keempat, Ikhtiar dan Tawakkal. Hal keempat ini mengandung makna bahwa dalam haji dan umrah dibutuhkan ikhtiar maksimal baik yang berhubungan kesempurnaan ibadah, maupun ketepatan pelayanan. Ia tidak semata-mata tidak berorientasi pada kemudahan, tapi berupaya maksimal ke arah kesempurnaan. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt…”dan sempurnakan haji dan umrahmu karena Allah Ta’ala)…..ketika ikhtiar maksimal telah dilakukan sesuai dengan kapasitas insaniyah, maka tawakkal kepada Allah  menjadi katup pengaman dalam menggapai hasil yang terbaik. Semoga dengan modal silaturahmi yang baik dapat mengantarkan pada predikat haji mabrur…amin yra

Aden Rosadi, Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD Bandung

Sumber, Pikiran Rakyat 11 April 2017

[post_parent] => 0 [comment_status] => open [menu_order] => 0 [post_section_id] => 672 [section_slug] => fokus [section_name] => Fokus [meta_penulis] => Aden Rosadi [meta_tempat] => [meta_sumber] => [files] => [post_content_wrap] => Salah inti ajaran agama Islam adalah silaturahmi. Silaturahmi senantiasa melekat pada semua syari’at, baik solat, puasa, zakat, maupun haji dan umrah. Secara teoritis, silaturahmi berarti ... [post_date_human] => Selasa, 11-Apr-2017 | 15:43:31 [media] => Array ( [photo] => Array ( [0] => Array ( [object_id] => 5023 [post_id] => 5023 [post_title] => Silaturahmi Dalam Haji dan Umrah [post_name] => silaturahmi-dalam-haji-dan-umrah [media_id] => 4282 [media_parent] => [media_pos] => 4282> [media_type] => photo [media_author] => 209 [media_date] => 2017-04-11 16:54:06 [media_title] => aden.jpg [media_excerpt] => [media_status] => draft [media_name] => aden.jpg [media_modified] => [media_guid] => _multimedia/photo/20170411/20170411165406_aden.jpg [media_mime_type] => image/jpeg [media_meta] => a:14:{s:9:"file_name";s:23:"20170411165406_aden.jpg";s:9:"file_type";s:10:"image/jpeg";s:9:"file_path";s:53:"/home/uin2013/public_html/_multimedia/photo/20170411/";s:9:"full_path";s:76:"/home/uin2013/public_html/_multimedia/photo/20170411/20170411165406_aden.jpg";s:8:"raw_name";s:19:"20170411165406_aden";s:9:"orig_name";s:23:"20170411165406_aden.jpg";s:11:"client_name";s:8:"aden.jpg";s:8:"file_ext";s:4:".jpg";s:9:"file_size";d:9.3800000000000007815970093361102044582366943359375;s:8:"is_image";b:1;s:11:"image_width";i:117;s:12:"image_height";i:163;s:10:"image_type";s:4:"jpeg";s:14:"image_size_str";s:24:"width="117" height="163"";} [attach_date] => 2017-04-11 16:54:06 [term_order] => 0 [media_url] => http://www.uinsgd.ac.id/_multimedia/photo/20170411/20170411165406_aden.jpg ) ) [audio] => Array ( ) [video] => Array ( ) [document] => Array ( ) ) )
Selasa, 11-Apr-2017 | 15:43:31
Aden Rosadi

Salah inti ajaran agama Islam adalah silaturahmi. Silaturahmi senantiasa melekat pada semua syari’at, baik solat, puasa, zakat, maupun haji dan umrah. Secara teoritis, silaturahmi berarti menjaga hubungan baik kepada Allah (hablumminallah) dalam bentuk penghambaan dan ibadah kepada Allah Swt. Dan menjalin hubungan kemanusiaan (hablumminannaas) dalam bentuk saling membantu, toleransi, menasehati dalam kebaikan dan kesabaranan, dan sebagainya. Secara praktis, silaturahmi juga mewujud hampir pada semua aspek kehidupan manusia. Ia senantiasa menjadi bagian penting dan jatidiri manusia sebagai makhluk sosial.

Dalam konteks ibadah haji dan umrah, silaturahmi menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan persiapan lainnya (fisik material dan mental spiritual). Hanya saja ia memiliki bentuk yang berbeda tapi sarat dengan makna yang sama. Sebagai ilustrasi saja, bahwa salah satu motivasi utama seseorang melaksanakan ibadah haji dan umrah selain memenuhi panggilan Allah Swt, juga mempunyai tujuan utama lainnnya yakni menjalin silaturahmi minimal antar jamaah. Dapat dibayangkan bagaimana jadinya, jika dalam prosesi ibadah haji dan umrah yang melibatkan jutaan jamaah tidak terjalin silaturahmi yang baik. Salah satu konsekwensinya adalah tidak terwujudnya pelayanan prima sebagaimana yang diharapkan.

Bagaimana wujud silaturahmi dalam haji dan umrah?...sepanjang pengalaman dan pengamatan penulis melayani jamaah haji dan umrah Qiblat Tour, silataurahmi itu mewujud pada beberapa hal :

Pertama, kerjasama dan sama-sama bekerja. Hal pertama ini menjadi sangat signifikan karena berhubungan dengan berbagai macam kepentingan dan kebutuhan para jamaah, baik yang b erhubungan dengan ibadah maupun teknis operasional. belum lagi persoalan background jamaah yang sangat bervariasi. Dapat dipastikan bahwa hampir semua persiapan haji dan umrah melibatkan semua unsur, baik pemerintah, calon jamaah, KBIH, Travel Haji dan umrah, penerbangan, maupun pengurusan hotel/maktab selama di Saudia. Belum lagi masalah kemanan dan keselamatan dalam perjalanan baik darat maupun udara. Hal tersebut dapat dilakukan dengan modal kekuatan kerjasama dan sama-sama bekerja secara terukur dan terarah. Secara praktis, kerjasama itu juga mesti nampak antar jamaah sebelum, selama dan pasca prosesi ibadah haji dan umrah dilakukan, baik dengan manajemen, pembimbing, petugas, maupun mutawwif. 

Kedua, Toleransi (tasammuh). Toleransi dalam haji dan umrah secara sederhana berhubungan dengan dua hal, yakni sikap dan prilaku jamaah yang berbeda dan toleransi pemahaman keagamaan (fiqh haji dan umrah yang bervariasi). toleransi ini menjadi penting karena berhubungan dengan ketenangan dan kepastian hukum jamaah dalam menjalanakan syraiat haji dan umrah. Ia juga berhubungan dengan keutuhan dan hubungan harmonis antar jamaah. 

Ketiga, sabar dan ikhlash. Kekuatan sabar dan ikhlash dalam haji dan umrah benar-benar dipertaruhkan. Sabar dalam ibadah selama di tanah suci. Sabar dalam menghadapai prilaku dan sikap jamaah yang berbeda-beda. Sabar dalam menhadapai musibah (sakit misalnya). Dan dibutuhkan kekuatan kesabaran lainnya. Ikhlash dalam konteks haji dan umrah adalah bagaimana selalu merespon apapun yang terjadi adalah taqdir terbaik yang telah ditentukan Allah. Iklhash mampu mengambil hikmah terbaik apapun yang terjadi. Ikhlash juga selalu berpikir positif dengan prinsip tiga hal, antara lain : syukuri, nikmati, dan maknai setiap jengkal perjalanan haji dan umrah. 

Keempat, Ikhtiar dan Tawakkal. Hal keempat ini mengandung makna bahwa dalam haji dan umrah dibutuhkan ikhtiar maksimal baik yang berhubungan kesempurnaan ibadah, maupun ketepatan pelayanan. Ia tidak semata-mata tidak berorientasi pada kemudahan, tapi berupaya maksimal ke arah kesempurnaan. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah Swt…”dan sempurnakan haji dan umrahmu karena Allah Ta’ala)…..ketika ikhtiar maksimal telah dilakukan sesuai dengan kapasitas insaniyah, maka tawakkal kepada Allah  menjadi katup pengaman dalam menggapai hasil yang terbaik. Semoga dengan modal silaturahmi yang baik dapat mengantarkan pada predikat haji mabrur…amin yra

Aden Rosadi, Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD Bandung

Sumber, Pikiran Rakyat 11 April 2017