Rektor Corner
Apa yang dapat dilakukan oleh para insan pendidikan Islam untuk menjauhkan murid-murid dari tindakan yang berpotensi mengarah pada terorisme atau penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai...next »



e-Journal



Array
(
    [post_id] => 5096
    [post_status] => publish
    [post_type_id] => 
    [ptype_name] => 
    [ptype_slug] => 
    [post_author] => 209
    [post_date] => 2017-07-04 03:28:29
    [post_modified] => 2017-07-04 03:30:59
    [post_title] => Persaudaraan dalam Keberagaman: Solusi Konflik Kemanusiaan
    [post_name] => persaudaraan-dalam-keberagaman-solusi-konflik-kemanusiaan
    [post_excerpt] => 
    [post_content] => 

Suasana hari Idul Fitri di mana Allah SWT mengembalikan kebahagiaan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya, memberikan imbalan berbagai kebaikan dan karunia yang berlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang kembali kepada kepasrahan dan tangisan meratapi segala kealpaan dan kekurangsempurnaan dalam melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan ajaram Islam, sebagai agama fitrah bagi setiap insan.

Sejalan dengan makna syawal, nama bulan yang ke-10 di mana hari pertamanya menjadi Hari Raya Idul Fitri bagi umat Nabi Muhammad SAW, yaitu meningkatkan segala amaliah keimanan dan ketakwaan yang dilakukan pada bulan Ramadhan dengan berpijak dan berbasiskan pada bagian hakikat makna Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah yang menurut Dr, Ibrahim Anis dan kawan-kawan ketika menafsirakan QS. Ar Rum (30): 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (Fitrah) itu tidak ada perubahan pada penciptaan Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Fitrah selain sebagai nama bagi dinul-Islam (agama Islam) yang juga dinamai dengan dinul-Qoyim (agama yang lurus), fitrah juga berarti nama bagi sedekah fitrah di akhir bulan Ramadhan yang merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim, tabiat atau watak dasar bagi setiap yang ada yang diadakan oleh Allah, merupakan dasar ketentuan dan ketentuan dasar yang sempurna bagi manusia. Fitrah juga merupakan kemampuan dan kesediaan untuk menjalankan hukum secara tepat, baik dan benar dan kemampuan berpikir yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah dalam memahami segala objek fikir dan dalam menjalani tugas hidup sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi ini. Fitrah itu terpatri di dalam jiwa manusia.

Fitrah bagi manusia juga berarti keyakinan yang melekat dan terpatri dalam ruh sejak berada di alam ruh bahwa Allah SWT Yang Maha Esa adalh Rab (Tuhan) yang menciptakan kedirian-Nya dan hanya kepada-Nya beribadah menurut agama fitrah yang diperuntukan baginya.

Posisi manusia merupakan bagian dari keragaman wujud ciptaan Allah SWT, oleh karenanya Dinul Fitrah, Dinul Qoyyim dan Dinul Hanif dihadirkan oleh Allah SWT untuk mengatur sikap dan perilaku berinteraksi antar-entitas makhluk yang beragam sebagai tanda kebesaran dan Ke-Maha Kuasaan Allah Maha Pencipta bagian dari aturan atas adanya prinsip persaudaraan di antara entitas keragaman makhluk, sehingga terwujud suatu situasi yang damai, harmonis, aman, nyaman, selamat, dan sejahtera sebagai cakupan dari makna Islam rahmatan lil alamin. Hal ini bukan saja bagi kehidupan umat m anusia, tetapi juga bagi keberlangsungan gerak seluruh alam semesta sebagai tanda-tanda ke-Maha Besaran Allah SWT.

Persaudaraan dalam istilah syar’i Dinul Fitrah disebut ukhuwah atau akhiyah mempunyai arti: ikatan nasab (keturunan) antar-individu dalam ikatan keluarga syarikul matsil-fil ijad (kesamaan dasar kejadian dalam penciptaan) dan as samamah wal hamasah (berkasih sayang, saling memberikan semangat dalam menjalani kehidupan) saling menghargai dan menghormati posisi entitas masing-masing, saling melindungi (Adz-dzimah, Al Hirmah), islah (saling memperbaiki, hidup berdampingan dalam kedamaian), At Ta’awun (saling menolong, saling membantu dalam kebaikan), dan ta’aruf (saling mengenal, menghormati, dan menghargai keragaman dan pernedaan sistem norma dan nilai budaya masing-masing). Jika makna ukhuwah (persaudaraan) dalam pengertian ini diralisasikan dalam universitas kehidupan di muka bumi, niscaya tidak akan terjadi konflik kemanusiaan dan konflik antar-makhluk yang mengakibatkan terjadinya kerusakan (fasad) dan bencana kehidupan umat manusia dan bencana di muka bumi lantaran ulah manusia yang menegakkan ‘adawiah (permusuhan) sebagai lawan dari ukhuwah.

Prinsip persaudaraan universal dalam ajaran Islam sebagai agama fitrah ada tiga. Pertama, persaudaraan dalam penciptaan (ukhuwah fil-ijad). Dengan menyadari dan meyakini bahwa bahan dasar fisik jasadiyah kemanusiaan, yaitu manusia berasal dari saripati unsur tanah, air, api, dan udara. Jadi semua umat manusia bersaudara.

Dengan demikian manusia hendaknya berperilaku memelihara dan memanfaatkan sumber daya alam. Lingkungan fisik untuk kemashlahatan dan kemanfaatn kehidupan fisikal sebagai sarana beribadah kepada Allah Maha Penciptya-Nya, tidak boleh merusak lingkungan dalam bentuk apapun, tidak boleh angkuh dan sombong (QS. Al Qashash: 77).

Kedua, persaudaraan dalam keragaman makhluk hidup (ukhuwah fil hayat) baik flora maupun fauna dengan mengakui bahwa manusia bagian dari makhluk hidup ciptaan Allah Maha Pencipta. Menjaga dan memelihara terjadinya keberlangsungan hidup hewan dan hayati menurut ketentuan ajaran Islam, agama fitrah yang rahmatan lil alamin dan tidak merusaknya (QS. Al Anbiya: 107).

Ketiga, persaudaraan dalam keragaman kemanusiaan (ukhuwah insaniyah). Dengan menyadari dan meyakini bahwa semua manusia yang berbeda-beda suku, bangsa, budaya, bangsa, dan teritorial tempat tinggal di planet bumi ini adalah ciptaan Allah Robul ‘Alamin dengan kaidah operasional tata laku sebagai berikut:

Kaidah ta’aruf, yaitu memahami mengawal sistem norma dan nilai budaya masning-masing etnik. Pada saat berinteraksi hendaknya bersikap adaftif dan saling menghormati. Penggunaan bahasa hendaknya dapat dipahami agar tidak salah paham atau tidak diskriminatif (QS. Al Hujarat: 13).

Kaidah ishlah, yaitu saling memperbaiki, terutama persoalan-persoalan yang akan menjadi penyebab konflik, permusuhan, dan peperanan diantara bangsa manusia (QS. Al Hujarat: 10).

Kaidah tasamuh, yaitu toleransi atas segala perbedaan kesukuan, kebahasaan, berbasis produk pemikirna manusia yang disepakati oleh masing-masing dengan saling menghormati keberadaan masing-masing dan tidak saling mengganggu, tidak saling mengejek terutama kepercayaan agama masing-masing (QS. Al Kafirun, Al Anam (6): 108 dan QS. Aa Zumar (39): 46 dan Al Haj (22).

Kaidah khilafah, yaitu saling menghargai dan setuju dalam perbedaan keberpihakan perilaku kepada personal pemimpin formal dan informal, tidak saling silang dan tidak saling menjatuhkan, apalagi permusuhan dan pertengkaran (QS. Ali Imron: 26).

Kaidah muru’ah, yaitu saling menjaga kehormatan identitas, diri kedirian masing umat manusia, dengan tidak saling merendahkan, tidak menggelari dengan stigma negatif, tidak saling mengejek kekurangan masing-masing dan membanggakan kelebihan masing-masing, tetapi hendaknya bersinergi dan berkolaborasi dalam hal-hal yang sama (QS. Al Hujarat: 11, 12).

Kaidah silaturrahim, yaitu tata hubungan intra, antar-individu, kelompok dan sosial yang mengekspresikan saling mengasihi, saling menyayanyi, saling membantu dalam memenuhi kebutuhan kesejahteraan ruhaniah dan jasadiah dengan tidak ta’ashub ( sektarianisasi) atas segala atribut perbedaan dan keragaman yang melekat pada kemanusiaan masing-masing (QS. Ar Ra’du (13): 21, 25).

Kaidah tashamuh khalifah mazhab, yaitu setuju dalam perbedaan, saling menghargai, saling menghormati dan menyadari serta memahami bahwa keragaman dan perbedaan paham dalam internal keagamaan, khususnya Islam adalah bagian dari karakter ajaran Islam dalam upaya mencari solusi, dan adaptasi atas segala perubahan dan perkembangan problem kehidupan di sepanjang zaman. Memahami dan toleran kepada penganut paham yang berbeda berijtihad atas isyarat-isyarat teks Al Quran dan Al Hadist sebab umat Islam dan Islam adalah mencakup semua.

Dengan mengacu kepada substansi ajaran Islam, agama fitrah tentang urgensi penegakan persaudaraan dalam keagamaan yang dapat menghardirkan konflik kemanusiaan dan bencana kehidupan, maka Syawal adalah proses aktualisasi peningkatan keberlangsungan Idul Fitri, yaitu kembali kepada penegakan tatanan dan tuntutan Islam bagi segenap manusia agar memperoleh kehidupan yang hasanah di dunia dan hasanah di akhirat.***

 

Khutbah Idul Fitri 1438 H di Masjid Raya Bandung 

Dr. KH. Syukriadi Sambas, M.Si., dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung. 

Sumber, http://www.masjidraya.com

 

[post_parent] => 0 [comment_status] => open [menu_order] => 0 [post_section_id] => 672 [section_slug] => fokus [section_name] => Fokus [meta_penulis] => Dr. KH. Syukriadi Sambas, M.Si. [meta_tempat] => [meta_sumber] => [files] => [post_content_wrap] => Suasana hari Idul Fitri di mana Allah SWT mengembalikan kebahagiaan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya, memberikan imbalan berbagai kebaikan dan karunia yang berlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang ... [post_date_human] => Selasa, 4-Jul-2017 | 03:28:29 [media] => Array ( [photo] => Array ( [0] => Array ( [object_id] => 5096 [post_id] => 5096 [post_title] => Persaudaraan dalam Keberagaman: Solusi Konflik Kemanusiaan [post_name] => persaudaraan-dalam-keberagaman-solusi-konflik-kemanusiaan [media_id] => 4343 [media_parent] => [media_pos] => 4343> [media_type] => photo [media_author] => 209 [media_date] => 2017-07-04 03:30:47 [media_title] => syukriadi.jpg [media_excerpt] => [media_status] => draft [media_name] => syukriadi.jpg [media_modified] => [media_guid] => _multimedia/photo/20170704/20170704033047_syukriadi.jpg [media_mime_type] => image/jpeg [media_meta] => a:14:{s:9:"file_name";s:28:"20170704033047_syukriadi.jpg";s:9:"file_type";s:10:"image/jpeg";s:9:"file_path";s:53:"/home/uin2013/public_html/_multimedia/photo/20170704/";s:9:"full_path";s:81:"/home/uin2013/public_html/_multimedia/photo/20170704/20170704033047_syukriadi.jpg";s:8:"raw_name";s:24:"20170704033047_syukriadi";s:9:"orig_name";s:28:"20170704033047_syukriadi.jpg";s:11:"client_name";s:13:"syukriadi.jpg";s:8:"file_ext";s:4:".jpg";s:9:"file_size";d:8.6400000000000005684341886080801486968994140625;s:8:"is_image";b:1;s:11:"image_width";i:200;s:12:"image_height";i:230;s:10:"image_type";s:4:"jpeg";s:14:"image_size_str";s:24:"width="200" height="230"";} [attach_date] => 2017-07-04 03:30:47 [term_order] => 0 [media_url] => http://www.uinsgd.ac.id/_multimedia/photo/20170704/20170704033047_syukriadi.jpg ) ) [audio] => Array ( ) [video] => Array ( ) [document] => Array ( ) ) )
Selasa, 4-Jul-2017 | 03:28:29
Dr. KH. Syukriadi Sambas, M.Si.

Suasana hari Idul Fitri di mana Allah SWT mengembalikan kebahagiaan dan kegembiraan kepada hamba-hamba-Nya, memberikan imbalan berbagai kebaikan dan karunia yang berlimpah kepada hamba-hamba-Nya yang kembali kepada kepasrahan dan tangisan meratapi segala kealpaan dan kekurangsempurnaan dalam melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan ajaram Islam, sebagai agama fitrah bagi setiap insan.

Sejalan dengan makna syawal, nama bulan yang ke-10 di mana hari pertamanya menjadi Hari Raya Idul Fitri bagi umat Nabi Muhammad SAW, yaitu meningkatkan segala amaliah keimanan dan ketakwaan yang dilakukan pada bulan Ramadhan dengan berpijak dan berbasiskan pada bagian hakikat makna Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah yang menurut Dr, Ibrahim Anis dan kawan-kawan ketika menafsirakan QS. Ar Rum (30): 30, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam); (sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (Fitrah) itu tidak ada perubahan pada penciptaan Allah (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Fitrah selain sebagai nama bagi dinul-Islam (agama Islam) yang juga dinamai dengan dinul-Qoyim (agama yang lurus), fitrah juga berarti nama bagi sedekah fitrah di akhir bulan Ramadhan yang merupakan kewajiban bagi setiap individu muslim, tabiat atau watak dasar bagi setiap yang ada yang diadakan oleh Allah, merupakan dasar ketentuan dan ketentuan dasar yang sempurna bagi manusia. Fitrah juga merupakan kemampuan dan kesediaan untuk menjalankan hukum secara tepat, baik dan benar dan kemampuan berpikir yang dapat membedakan antara yang benar dan yang salah dalam memahami segala objek fikir dan dalam menjalani tugas hidup sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi ini. Fitrah itu terpatri di dalam jiwa manusia.

Fitrah bagi manusia juga berarti keyakinan yang melekat dan terpatri dalam ruh sejak berada di alam ruh bahwa Allah SWT Yang Maha Esa adalh Rab (Tuhan) yang menciptakan kedirian-Nya dan hanya kepada-Nya beribadah menurut agama fitrah yang diperuntukan baginya.

Posisi manusia merupakan bagian dari keragaman wujud ciptaan Allah SWT, oleh karenanya Dinul Fitrah, Dinul Qoyyim dan Dinul Hanif dihadirkan oleh Allah SWT untuk mengatur sikap dan perilaku berinteraksi antar-entitas makhluk yang beragam sebagai tanda kebesaran dan Ke-Maha Kuasaan Allah Maha Pencipta bagian dari aturan atas adanya prinsip persaudaraan di antara entitas keragaman makhluk, sehingga terwujud suatu situasi yang damai, harmonis, aman, nyaman, selamat, dan sejahtera sebagai cakupan dari makna Islam rahmatan lil alamin. Hal ini bukan saja bagi kehidupan umat m anusia, tetapi juga bagi keberlangsungan gerak seluruh alam semesta sebagai tanda-tanda ke-Maha Besaran Allah SWT.

Persaudaraan dalam istilah syar’i Dinul Fitrah disebut ukhuwah atau akhiyah mempunyai arti: ikatan nasab (keturunan) antar-individu dalam ikatan keluarga syarikul matsil-fil ijad (kesamaan dasar kejadian dalam penciptaan) dan as samamah wal hamasah (berkasih sayang, saling memberikan semangat dalam menjalani kehidupan) saling menghargai dan menghormati posisi entitas masing-masing, saling melindungi (Adz-dzimah, Al Hirmah), islah (saling memperbaiki, hidup berdampingan dalam kedamaian), At Ta’awun (saling menolong, saling membantu dalam kebaikan), dan ta’aruf (saling mengenal, menghormati, dan menghargai keragaman dan pernedaan sistem norma dan nilai budaya masing-masing). Jika makna ukhuwah (persaudaraan) dalam pengertian ini diralisasikan dalam universitas kehidupan di muka bumi, niscaya tidak akan terjadi konflik kemanusiaan dan konflik antar-makhluk yang mengakibatkan terjadinya kerusakan (fasad) dan bencana kehidupan umat manusia dan bencana di muka bumi lantaran ulah manusia yang menegakkan ‘adawiah (permusuhan) sebagai lawan dari ukhuwah.

Prinsip persaudaraan universal dalam ajaran Islam sebagai agama fitrah ada tiga. Pertama, persaudaraan dalam penciptaan (ukhuwah fil-ijad). Dengan menyadari dan meyakini bahwa bahan dasar fisik jasadiyah kemanusiaan, yaitu manusia berasal dari saripati unsur tanah, air, api, dan udara. Jadi semua umat manusia bersaudara.

Dengan demikian manusia hendaknya berperilaku memelihara dan memanfaatkan sumber daya alam. Lingkungan fisik untuk kemashlahatan dan kemanfaatn kehidupan fisikal sebagai sarana beribadah kepada Allah Maha Penciptya-Nya, tidak boleh merusak lingkungan dalam bentuk apapun, tidak boleh angkuh dan sombong (QS. Al Qashash: 77).

Kedua, persaudaraan dalam keragaman makhluk hidup (ukhuwah fil hayat) baik flora maupun fauna dengan mengakui bahwa manusia bagian dari makhluk hidup ciptaan Allah Maha Pencipta. Menjaga dan memelihara terjadinya keberlangsungan hidup hewan dan hayati menurut ketentuan ajaran Islam, agama fitrah yang rahmatan lil alamin dan tidak merusaknya (QS. Al Anbiya: 107).

Ketiga, persaudaraan dalam keragaman kemanusiaan (ukhuwah insaniyah). Dengan menyadari dan meyakini bahwa semua manusia yang berbeda-beda suku, bangsa, budaya, bangsa, dan teritorial tempat tinggal di planet bumi ini adalah ciptaan Allah Robul ‘Alamin dengan kaidah operasional tata laku sebagai berikut:

Kaidah ta’aruf, yaitu memahami mengawal sistem norma dan nilai budaya masning-masing etnik. Pada saat berinteraksi hendaknya bersikap adaftif dan saling menghormati. Penggunaan bahasa hendaknya dapat dipahami agar tidak salah paham atau tidak diskriminatif (QS. Al Hujarat: 13).

Kaidah ishlah, yaitu saling memperbaiki, terutama persoalan-persoalan yang akan menjadi penyebab konflik, permusuhan, dan peperanan diantara bangsa manusia (QS. Al Hujarat: 10).

Kaidah tasamuh, yaitu toleransi atas segala perbedaan kesukuan, kebahasaan, berbasis produk pemikirna manusia yang disepakati oleh masing-masing dengan saling menghormati keberadaan masing-masing dan tidak saling mengganggu, tidak saling mengejek terutama kepercayaan agama masing-masing (QS. Al Kafirun, Al Anam (6): 108 dan QS. Aa Zumar (39): 46 dan Al Haj (22).

Kaidah khilafah, yaitu saling menghargai dan setuju dalam perbedaan keberpihakan perilaku kepada personal pemimpin formal dan informal, tidak saling silang dan tidak saling menjatuhkan, apalagi permusuhan dan pertengkaran (QS. Ali Imron: 26).

Kaidah muru’ah, yaitu saling menjaga kehormatan identitas, diri kedirian masing umat manusia, dengan tidak saling merendahkan, tidak menggelari dengan stigma negatif, tidak saling mengejek kekurangan masing-masing dan membanggakan kelebihan masing-masing, tetapi hendaknya bersinergi dan berkolaborasi dalam hal-hal yang sama (QS. Al Hujarat: 11, 12).

Kaidah silaturrahim, yaitu tata hubungan intra, antar-individu, kelompok dan sosial yang mengekspresikan saling mengasihi, saling menyayanyi, saling membantu dalam memenuhi kebutuhan kesejahteraan ruhaniah dan jasadiah dengan tidak ta’ashub ( sektarianisasi) atas segala atribut perbedaan dan keragaman yang melekat pada kemanusiaan masing-masing (QS. Ar Ra’du (13): 21, 25).

Kaidah tashamuh khalifah mazhab, yaitu setuju dalam perbedaan, saling menghargai, saling menghormati dan menyadari serta memahami bahwa keragaman dan perbedaan paham dalam internal keagamaan, khususnya Islam adalah bagian dari karakter ajaran Islam dalam upaya mencari solusi, dan adaptasi atas segala perubahan dan perkembangan problem kehidupan di sepanjang zaman. Memahami dan toleran kepada penganut paham yang berbeda berijtihad atas isyarat-isyarat teks Al Quran dan Al Hadist sebab umat Islam dan Islam adalah mencakup semua.

Dengan mengacu kepada substansi ajaran Islam, agama fitrah tentang urgensi penegakan persaudaraan dalam keagamaan yang dapat menghardirkan konflik kemanusiaan dan bencana kehidupan, maka Syawal adalah proses aktualisasi peningkatan keberlangsungan Idul Fitri, yaitu kembali kepada penegakan tatanan dan tuntutan Islam bagi segenap manusia agar memperoleh kehidupan yang hasanah di dunia dan hasanah di akhirat.***

 

Khutbah Idul Fitri 1438 H di Masjid Raya Bandung 

Dr. KH. Syukriadi Sambas, M.Si., dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung. 

Sumber, http://www.masjidraya.com