Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Array
(
    [post_id] => 5158
    [post_status] => publish
    [post_type_id] => 
    [ptype_name] => 
    [ptype_slug] => 
    [post_author] => 209
    [post_date] => 2017-09-19 13:11:06
    [post_modified] => 2017-09-19 07:13:20
    [post_title] => Menjemput Haji dengan Mabrur
    [post_name] => menjemput-haji-dengan-mabrur
    [post_excerpt] => 
    [post_content] => 

Haji mabrur menurut bahasa adalah haji yang baik atau yang diterima oleh Allah SWT. Sedangkan menurut istilah syar’i, haji mabrur ialah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal yang dilarang (muharramat) dengan penuh konsentrasi dan penghayatan semata-mata atas dorongan iman dan mengharap ridha Allah SWT.

Hampir dapat dipastikan semua jamaah haji yang telah melakukan prosesi ibadah haji pada dasarnya berharap menjadi haji yang Mabrur di sisi Allah Swt. Haji mabrur balasan utamanya adalah syurga, sebagaimana hadits Rasulullah Saw : “Dari Abu Hurairah beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Haji yang Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga”. (HR: An-Nasa’i dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu.)

Haji Mabrur juga adalah pemupus dosa-dosa, sehingga siapa saja yang mendapatkan haji Mabrur maka seolah ia kembali sebagaimana seorang bayi yang baru terlahir kembali, bayi tentunya lahir tanpa membawa salah dan dosa. Dalam Hadits juga disebutkan : “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu beliau bertutur: ‘Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Siapa saja yang berhaji karena Allah (lalu kemudian ia) tidak melakukan Rafats (baca: berbicara atau berbuat tidak senonoh menjurus ke arah nafsu birahi) dan tidak berbuat kefasikan, ia akan kembali seperti hari dimana ibu melahirkannya”. (HR: Bukhari.)

Kedua hadits tersebut merupakan penjelas yang dan cara meraih haji Mabrur, yakni dengan menjauhi segala macam ucapan dan prilaku yang dapat mengurangi atau mencederai keutuhan ibadah haji itu sendiri, terlebih lebih jika sampai merusaknya karena mencampur adukkannya dengan maksiat. 

Pertanyaannya adalah,  apa tanda-tanda khsusus haji mabrur? Ditengah perjalanan kembali ke tanah air setelah menunaikan ibadah haji, para jamaah mungkin sebagian optimis dengan kemabruran hajinya, mungkin juga pesimis dengan rangkaian kekuarangsempurnaan dalam ibadahnya.  Untuk mengetahui jawabannya, terdapat beberapa ketarangan hadits Rasulkullah Saw :

Pertama, Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Nabi bersabda: “Haji Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga, (Nabi) ditanya: “dan apakah (bentuk) kemabrurannya?” Nabi menjawab: ‘memberi makan dan ucapan yang baik’. (Imam Al-Mundzry berkata) Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrany dalam Al-Austah dengan Sanad (baca: rantai periwayatan) yang Hasan, dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan oleh Albaihaqy, dan oleh Al-Hakim secara ringkas dan ia (Al-hakim) berkata: Sanadnya Shahih. Dan dalam riwayat lainnya dari Ahmad dan Al-Baihaqy (terdapat redaksi lain yang berbunyi) ‘memberi makan dan menebarkan salam. 

Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam karyanya yang berjudul Al-Istidzkar, beliau menyebutkan bahwa Hasan Al-Bashry pernah ditanya ciri-ciri haji Mabrur dan beliau menjawab: Artinya: “Ia kembali dalam keadaan menjadi seorang yang Zuhud di dunia ini, dan menjadi orang yang cendrung kepada akhirat”

Kedua, Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW  juga pernah memberikan kisi-kisi tanda atau ciri-ciri bagi setiap orang yang mendapatkan predikat mabrur hajinya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Artinya, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan pesan perdamaian.                                                        

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, dapat disimpulkan bahwa predikat mabrur hanya bisa diraih oleh seseorang yang telah menjalankan ibadah haji sesuai contoh Rasulullah Saw yang tidak hanya memberikan dampak positif terhadap kehidupan orang tersebut, melainkan juga berdampak besar kepada sisi sosial di lingkungannya. wallahua’lam bi alshawab.[]

Aden Rosadi, Pembimbing Hahji dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD

Sumber, Pikiran Rakyat 19 September 2017

[post_parent] => 0 [comment_status] => open [menu_order] => 0 [post_section_id] => 672 [section_slug] => fokus [section_name] => Fokus [meta_penulis] => Aden Rosadi [meta_tempat] => [meta_sumber] => [files] => [post_content_wrap] => Haji mabrur menurut bahasa adalah haji yang baik atau yang diterima oleh Allah SWT. Sedangkan menurut istilah syar’i, haji mabrur ialah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah dan ... [post_date_human] => Selasa, 19-Sep-2017 | 13:11:06 [media] => Array ( [photo] => Array ( [0] => Array ( [object_id] => 5158 [post_id] => 5158 [post_title] => Menjemput Haji dengan Mabrur [post_name] => menjemput-haji-dengan-mabrur [media_id] => 4282 [media_parent] => [media_pos] => 4282> [media_type] => photo [media_author] => 209 [media_date] => 2017-04-11 16:54:06 [media_title] => aden.jpg [media_excerpt] => [media_status] => draft [media_name] => aden.jpg [media_modified] => [media_guid] => _multimedia/photo/20170411/20170411165406_aden.jpg [media_mime_type] => image/jpeg [media_meta] => a:14:{s:9:"file_name";s:23:"20170411165406_aden.jpg";s:9:"file_type";s:10:"image/jpeg";s:9:"file_path";s:53:"/home/uin2013/public_html/_multimedia/photo/20170411/";s:9:"full_path";s:76:"/home/uin2013/public_html/_multimedia/photo/20170411/20170411165406_aden.jpg";s:8:"raw_name";s:19:"20170411165406_aden";s:9:"orig_name";s:23:"20170411165406_aden.jpg";s:11:"client_name";s:8:"aden.jpg";s:8:"file_ext";s:4:".jpg";s:9:"file_size";d:9.3800000000000007815970093361102044582366943359375;s:8:"is_image";b:1;s:11:"image_width";i:117;s:12:"image_height";i:163;s:10:"image_type";s:4:"jpeg";s:14:"image_size_str";s:24:"width="117" height="163"";} [attach_date] => 2017-09-19 07:13:08 [term_order] => 0 [media_url] => http://www.uinsgd.ac.id/_multimedia/photo/20170411/20170411165406_aden.jpg ) ) [audio] => Array ( ) [video] => Array ( ) [document] => Array ( ) ) )
Selasa, 19-Sep-2017 | 13:11:06
Aden Rosadi

Haji mabrur menurut bahasa adalah haji yang baik atau yang diterima oleh Allah SWT. Sedangkan menurut istilah syar’i, haji mabrur ialah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal yang dilarang (muharramat) dengan penuh konsentrasi dan penghayatan semata-mata atas dorongan iman dan mengharap ridha Allah SWT.

Hampir dapat dipastikan semua jamaah haji yang telah melakukan prosesi ibadah haji pada dasarnya berharap menjadi haji yang Mabrur di sisi Allah Swt. Haji mabrur balasan utamanya adalah syurga, sebagaimana hadits Rasulullah Saw : “Dari Abu Hurairah beliau berkata: “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda: “Haji yang Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga”. (HR: An-Nasa’i dan Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir dari Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu ‘Anhu.)

Haji Mabrur juga adalah pemupus dosa-dosa, sehingga siapa saja yang mendapatkan haji Mabrur maka seolah ia kembali sebagaimana seorang bayi yang baru terlahir kembali, bayi tentunya lahir tanpa membawa salah dan dosa. Dalam Hadits juga disebutkan : “Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu beliau bertutur: ‘Aku pernah mendengar Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: Siapa saja yang berhaji karena Allah (lalu kemudian ia) tidak melakukan Rafats (baca: berbicara atau berbuat tidak senonoh menjurus ke arah nafsu birahi) dan tidak berbuat kefasikan, ia akan kembali seperti hari dimana ibu melahirkannya”. (HR: Bukhari.)

Kedua hadits tersebut merupakan penjelas yang dan cara meraih haji Mabrur, yakni dengan menjauhi segala macam ucapan dan prilaku yang dapat mengurangi atau mencederai keutuhan ibadah haji itu sendiri, terlebih lebih jika sampai merusaknya karena mencampur adukkannya dengan maksiat. 

Pertanyaannya adalah,  apa tanda-tanda khsusus haji mabrur? Ditengah perjalanan kembali ke tanah air setelah menunaikan ibadah haji, para jamaah mungkin sebagian optimis dengan kemabruran hajinya, mungkin juga pesimis dengan rangkaian kekuarangsempurnaan dalam ibadahnya.  Untuk mengetahui jawabannya, terdapat beberapa ketarangan hadits Rasulkullah Saw :

Pertama, Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, Nabi bersabda: “Haji Mabrur tiadalah baginya pahala kecuali surga, (Nabi) ditanya: “dan apakah (bentuk) kemabrurannya?” Nabi menjawab: ‘memberi makan dan ucapan yang baik’. (Imam Al-Mundzry berkata) Hadits ini diriwayatkan oleh Ath-Thabrany dalam Al-Austah dengan Sanad (baca: rantai periwayatan) yang Hasan, dan oleh Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan oleh Albaihaqy, dan oleh Al-Hakim secara ringkas dan ia (Al-hakim) berkata: Sanadnya Shahih. Dan dalam riwayat lainnya dari Ahmad dan Al-Baihaqy (terdapat redaksi lain yang berbunyi) ‘memberi makan dan menebarkan salam. 

Imam Ibnu ‘Abdil Barr dalam karyanya yang berjudul Al-Istidzkar, beliau menyebutkan bahwa Hasan Al-Bashry pernah ditanya ciri-ciri haji Mabrur dan beliau menjawab: Artinya: “Ia kembali dalam keadaan menjadi seorang yang Zuhud di dunia ini, dan menjadi orang yang cendrung kepada akhirat”

Kedua, Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW  juga pernah memberikan kisi-kisi tanda atau ciri-ciri bagi setiap orang yang mendapatkan predikat mabrur hajinya.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnad-nya. Artinya, “Para sahabat berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa itu haji mabrur?’ Rasulullah menjawab, ‘Memberikan makanan dan menebarkan pesan perdamaian.                                                        

Berdasarkan ciri-ciri tersebut, dapat disimpulkan bahwa predikat mabrur hanya bisa diraih oleh seseorang yang telah menjalankan ibadah haji sesuai contoh Rasulullah Saw yang tidak hanya memberikan dampak positif terhadap kehidupan orang tersebut, melainkan juga berdampak besar kepada sisi sosial di lingkungannya. wallahua’lam bi alshawab.[]

Aden Rosadi, Pembimbing Hahji dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD

Sumber, Pikiran Rakyat 19 September 2017