Rektor Corner
Apa yang dapat dilakukan oleh para insan pendidikan Islam untuk menjauhkan murid-murid dari tindakan yang berpotensi mengarah pada terorisme atau penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai...next »



e-Journal



Senin, 22-Mei-2017 | 08:12:24
LPIK Gelar Refleksi Aksi Bela Islam 212

[www.uinsgd.ac.id] Refleksi atas aksi bela Islam 411 diikuti aksi-aksi lainnya, hingga tuntutan penahanan Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok atas kasus penistaan agama yang menjeratnya menuai beragam komentar. Bahkan hingga kini setelah ditetapkan putusan hakim yang menyatakan Ahok melakukan tindak pidana penodaan agama dengan hukuman dua tahun penjara, masih dibahas dan dikaitkan dengan aksi bela Islam.

Penulis Buku Perjumpaan Agung 212, Kafil Yamin  mengatakan bahwa reaksi umat Islam terhadap kasus penistaan agama adalah hal yang wajar dan diharuskan. Ia juga mengaku sebagai salah-satu peserta aksi yang tidak pernah absen mengikuti aksi semua jilid.  “Kebetulan saya mulai yang pertama 411,  hingga yang terakhir saya tidak pernah absen,” ujar Alumni UIN SGD Bandung tersebut saat menjadi narasumber dalam kegiatan diskusi yang diselenggarakan oleh Lembaga Kajian Ilmu Keislaman (LPIK) UIN SGD Bandung, Rabu (17/5/2017), di Aula Abdjan Soelaeman.

Menggunakan sudut pandang sejarah, Kafil Yamin menambahkan, sebenarnya persoalan penodaan agama khususnya terhadap Al-Quran bukan hal yang aneh. “Gerakan gerakan yang menghina dan melecehkan Al-Quran dan orang-orang munafik yang membela mereka itu sudah ada sejak zaman rasulullah, bahkan tercantum di dalam Al-Quran,” ujarnya. Maka, ia mengaku tak mengherankan jika hal tersebut terjadi kembali.

Menurut Kafil Yamin yang harus ditegaskan ialah bagaimana umat Islam menyikapi hal tersebut. Ia juga membacakan ayat-ayat dalam Al-Quran yang berkaitan dengan penodaan agama dan anjuran terhadap umat Islam, jika Al-Quran diolok-olok. Ia juga mengoreksi isu-isu yang berseliweran terkait aksi bela Islam, salah satunya bahwa aksi tersebut ditunggangi kepentingan politik. “Tidak ada kepentingan apapun,” tegas Kafil Yamin.

Lain halnya dengan salah satu editor Islam Bergerak, Azka Fahriza yang memandang aksi bela Islam dari sudut pandang Sosiologis. “Dalam diskusi kali ini saya tidak akan masuk pada perdebatan teologis tentang aksi bela Islam itu, ditinjau dalam sudut pandang Islam. Alih-alih masuk ke sana saya akan membaca aksi 411 atau aksi bela Islam secara umum dalam tinjauan sosiologis,” ujar Azka.

Tuntutan sosial yang memuat aksi menjadi sebesar itu bukan penistaan agama, buka soal Ahok Cina tetapi bagaimana Ahok memerintah Jakarta dengan semena-mena, pro terhadap penggusuran, dan pro pemodal. “Namun alasan tersebut jarang dibicarakan ketika kita membicarakan aksi 411,” tambah Azka.

Azka mengapresiasi dan menghargai setiap aksi bela Islam karena aksi adalah bentuk ekspresi. Namun, Azka menyayangkan aksi tersebut tidak menyentuh kebutuhan ril masyarakat Jakarta, tetapi hanya berkutat di wilayah agama yang masih abstrak antara benar atau salahnya Ahok menistakan agama. Bukan perihal cara kepemimpinan Ahok yang tidak pro warga Jakarta kelas bawah.

“Saya kira mesti berisap meninggalkan kemoderatan yang sempat digemborkan sebagi isu yang sangat penting. Tepat seperti Abraham Lincoln berada bersebrangan dengan kemoderatan untuk beriringan dengan orang-orang tertindas,” pungkas Azka.[Isthiqonita, Hasna Salma/Suaka]