Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Rabu, 1-Nov-2017 | 10:11:06
Sunda-Jawa Bersatu dalam Islam

[www.uinsgd.ac.id] Etnis Sunda dan Jawa yang sejak puluhan tahun silam dipandang berseberangan, tidak pernah akur, dan saling dendam, ternyata setelah masa penjajahan memiliki kesamaan pandangan. Kedua etnis ini bersatu dengan balutan keyakinan dan ajaran Islam.

Kesimpulan ini mencuat dari Diseminasi Budaya bertema "Relasi Budaya (Sunda-Jawa) pada Era Post-Kolonial dalam Potret Islam Nusantara Di Indonesia" di Auditorium Perpustakaan UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jln. A.H. Nasution 106, Kota Bandung, Selasa (31/10/2017).

Acara diprakarsai oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UIN Sunan Gunung Djati Bandung bekerja sama dengan  Subdit Penelitian, Publikasi Ilmiah, dan Pengabdian Masyarakat Ditjen Kemenag. 

"Sasaran paling realistik yang dapat dijangkau di dalam waktu dekat ini adalah perumusan pemikiran paradigmatik penelitian dan partisipasi masyarakat yang agamis, inklusif, produktif, inovatif dan solutif," ujar Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN SGD Bandung, Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., di sela-sela acara kemarin.

Tujuan dari kegiatan ini, kata Wahyudin, untuk menyebarkan dan memublikasikan hasil penelitian dosen-dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung agar dapat diketahui publik sehingga menimbulkan kesadaran bagi masyarakat dan mengambil manfaatnya.

Selain itu, lanjutnya, kegiatan ini pun dimaksudkan untuk merumuskan relasi budaya Sunda-Jawa pada masa pascakolonial kaitannya dengan Islam Nusantara di Indonesia

"Kami juga ingin menemukan nalar bersama tentang kerangka penelitian, publikasi ilmiah, dan partisipasi masyarakat berbasis keunggulan lokal," ujar Yudi, sapaan akrab Wahyudin.

Kegiatan ini diikuti oleh 140 orang yang terdiri atas undangan khusus, masyarakat umum, dan koresponden. Tampil sebagai narasumber/pembahas Prof. Dr. H. Moh. Isom, M.Ag. (Sekjen Pendidikan Islam Kemenag), Prof. Dr. Hj. Nina Herlina Lubis, M.S. (Sejarawan Unpad), Dr. Ngatawi al-Azstrow (peneliti pada Institute for Indonesian Sociology Universitas Indonesia), Dr. Muhammad Zain (Kasubdit Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian Masyarakat Diktis Kementerian Agama RI), Dr. Anis Masykur, M.A. (Kasi Penelitian dan HKI pada Subdit Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian Masyarakat Diktis Kementerian Agama RI). dan Dr. Mahrus el-Hawa, M.Ag. (Kasi Publikasi Ilmah pada Subdit Penelitian, Publikasi Ilmiah dan Pengabdian Masyarakat Diktis Kementerian Agama RI).

Islam menjadi pengikat

Yusuf Wibisono, dosen Fakultas Ushuluddin, mengatakan  ada tiga pendekatan dalam konteks perjumpaan sejati antara etnis Jawa dan Sunda.

Pertama, pendekatan menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal yang mengajarkan spirit toleransi atau menghargai perbedaan, dijadikan standar moral dalam menganyam kebersamaan.  Kedua, pendekatan kesamaan keyakinan keagamaan antara kedua etnis yang  efektif dalam mempersatukan perbedaan. Ketiga, pendekatan pendidikan yang mengajarkan tentang kesetaraan dan menghargai perbedaan. Keempat, pendekatan politik yang berpihak pada nilai-nilai kesetaraan di bidang sosial, budaya, hukum dan ekonomi.

"Prinsip dasar dalam berbangsa dan bernegara di republik ini, mengedepankan etos kesetaraan dalam kebhinekaan. Tidak ada identitas golongan atau etnis ap apun yang lebih tinggi diantara identitas-identitas lainnya," kata Yusuf.

Senada dengan Yusuf, Jajang A Rohmana memfokuskan penelitiannya pada penelusuran jejaring Sunda dan Jawa dalam tradisi keilmuan Islam pesantren di Nusantara. Menurutnya, orang Sunda dan Jawa terikat sangat kuat dalam payung besar pesantren dan tradisi keilmuan Islam di Jawa. Kalangan pesantren cenderung menekankan pada kesadaran keislaman yang melintasi batas-batas etnis dan kultural.

"Tidak ada satu pun catatan di pesantren Sunda yang mempersoalkan dendam sejarah dua etnis terbesar di Jawa tersebut. Jaringan pesantren Jawa tidak hanya tersebar di Jawa dan jaringan pesantren Sunda tidak terbentuk hanya di sekitar tatar Sunda, tetapi berhubungan secara luas dengan jaringan pesantren lainnya terutama di Jawa" jelasnya.

Selain Yusuf dan Jajang, tampil pula peneliti lainnya Ujang Suryatman, Wahyu Iriyana, Radea Juli A. Hambali, Dadang Darmawan,  (Fakultas Adab dan HUmainora), Nurohaman, Harry Huniardi (Fakultas Syariah dan Hukum). Pada dasarnya para peneliti sepakat antara etnis Sunda dan Jawa saling memiliki keterkaitan dan kesamaan pandangan dalam bingkai keagamaan, yakni Islam. []