Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Rabu, 4-Okt-2017 | 13:32:29
Kuliah Umum Penangkalan Paham Radikalisme

[www.uinsgd.ac.id] Untuk membendung arus radikalisme di perguruan tinggi, maka UIN SGD Bandung menegaskan sebagai kampus moderat yang giat menebarkan Islam Rahmatan lil Alamin. "Dengan adanya kuliah umum ini meneguhkan UIN SGD Bandung sebagai penyebar Islam Rahmatan lil Alamin yang bersikap moderat dan berbasis kearifan lokal, seperti yang dilakukan oleh Sunan Gunung Djati dalam menyebarkan Islam," demikian ungkap Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M.Si saat membuka Kuliah Umum bersama Kapolda Jabar, Irjen Pol Drs. Agung Budi Maryoto, M.Si bertajuk "Upaya Penangkalan Paham Radikalisme" di Aula Anwar Musaddad, Rabu (4/10).

Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. H. Mahmud, M. Si, sangat mengapresiasi kuliah umum ini karena peran mahasiswa dinilai sangat penting dalam upaya pencegahan paham radikalisme. Apalagi UIN SGD Bandung sudah menegaskan dirinya sebagai kampus Islam Nusantara yang berkemajuan.

"Kampus UIN SGD Bandung ini sudah menjadi kampus Islam Nusantara yang berkemajuan, maka tidak ada alasan untuk kita tidak bisa mencintai tanah air, karena bela negara sendiri merupakan sunah rasul, dan rasul sendiri ketika diperintahkan untuk hijrah dari Mekah ke Madinah itu sangat berberat hati, karena apa? Karena rasul cinta tanah airnya sendiri," ujarnya.

Mengenai empat pilar kebangsaan Indonesia, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, Undang – Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). "Empat pilar ini harga mati, tak bisa ditawar-tawar lagi untuk kampus UIN SGD Bandung yang menegaskan sudah menjadi kampus Islam Nusantara yang berkemajuan," tegasnya.

Menurut Kapolda Jabar, mahasiswa merupakan tokoh pemuda yang harus bisa menangkal paham radikal di lingkungan sekitarnya. Karena penyebaran radikalisme telah menggunakan media sosial. "Jadi saya ingin memberikan support kepada mahasiswa yang menjadi harapan bangsa dapat memahami situsi akan radikaslime. Paling tidak dapat membentengi diri sendiri, lebih jauh mengajak yang lain," ungkapnya

Paham radikalisme kini menyebar sudah mengikuti zaman yang ada. Bukan face to face tapi dapat melalui media terutama media sosial seperti facebook, twitter dan lain sebagainya."Melalui media sosial paham radikalisme dapat berkembang, sehingga penting untuk membentengi diri. Di masyrakat masih ada tapi warga Bandung cukup agamis dan religius yang siap membantu polisi," ujarnya.

Diakuinya media sosial memiliki pengaruh yang cukup dahsyat yang dapat dimanfaatkan oleh kepentingan siapa saja. Oleh karena itu, penting untuk bersikap bijak dalam menerima berbagai postingan atau pesan yang muncul di media sosial.

Dalam melihat media sosial, maka masyarakat termasuk pelajar dan mahasiswa tidak begitu saja menyerap informasi yang ada. Namun mencari referensi lain sehingga tidak hanya berdasar dari satu sumber saja, karena kerap muncuk hoax di media sosial.

"Media sosial memiliki kerawanan yang lebih besar dibanding dengan media mainstream atau konservarif karena siapa saja bisa menulis apa yang diinginkannya. Masyarakat harus waspada dalam menerima dan menyebarkan berita yang tidak dipastikan kebenarannya," tuturnya.

Media sosial hadir sebagai tantangan akan keberagaman, dimana muncul intoleransi seperti penyebaran  permusuhan dalam bentuk info hoax dan meme yang dapat memicu konflik."Bahkan dapat menjadi penyebaran paham radikal melalui propoganda teroris. Termasuk cybercrime seperti pornografi dan judi online," pungkasnya. []