Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Selasa, 13-Feb-2018 | 07:29:30
Korupsi itu Tindakan Genosida Peradaban

[www.uinsgd.ac.id] Mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Abraham Samad mengatakan, tindakan korupsi sebagai genosida peradaban. Pasalnya, praktik korupsi dapat disetarakan dengan pembunuhan massal karakter seseorang.

"Ya, pembantaian massal karakter. Sebagai contoh, di negara mana ketua DPRnya korupsi dan bisa bebas?" kata Samad dalam seminar motivasi bertajuk "Spirit of Indonesia" di Aula Anwar Musaddad, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Senin (12/2/2018).

Lebih lanjut Samad mengatakan, tindakan korupsi didorong dua hal. Pertama, keserakahan seseorang karena merasa pendapatannya tidak pernah cukup. Ia menyontohkan pada beberapa kasus pejabat negara yang tersandung kasus korupsi.

"Kedua, ini karena kebutuhan. Penghasilan dari negara yang tidak mencukupi untuk menghidupi dirinya sehari-hari. Ini menjadi tanggung jawab pemerintah dan negara," ungkapnya.

Guna mengantisipasi hal-hal demikian, katanya, dapat dilakukan melalui pendidikan moral sejak usia muda. Pasalnya, generasi muda saat ini perlu pengembangan lebih mengenai pendidikan moral.

Moral yang baik sejak muda, akan membentuk pribadi pemimpin yang bagus pula. Caranya, meminimalisasi praktik curang dalam kegiatan kesehariannya. Guna membentuk generasi yang baik, perlu memperbaiki melalui pendidikan karakter dan membentuk integritas. 

"Pendidikan moral dan integritas perlu untuk mendorong orang agar jadi pemimpin yang memiliki integritas tinggi, bukan hanya pintar. Hanya kognitif, membentuk yang pintar tapi moralnya bejat," ujar Samad.

Kini, Samad sedang konsentrasi dalam mengajak generasi muda ikut serta gerakan sosial anti korupsi. Hal ini diwujudkannya dengan roadshow ke pelosok daerah dan kampus-kampus. 

Menyangkut kinerja KPK saat ini, Ia mengingatkan perlu ada dua hal yang dilakukan. Pertama, melakukan penindakan yang represif. Hal ini patut terus dikerjakan guna menangkap oknum-oknum pegiat korupsi.

"Bukan hanya itu, tapi ada perbaikna sistem. Sistem kementerian kabupaten, kota, juga provinsi harus diperbaiki, tata kelola perijinan harus diperbaiki, jangan memberi ruang bagi pelaku korupsi," tegas pria asal Makassar itu.

Menurut hasil survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (Kedai KOPI) pada Rabu (3/1/2018), Samad masuk sebagai 4 figur pengganti Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk mendampingi Presiden Joko Widodo pada Pilpres 2019 mendatang. Menanggapi hal ini, Ia mengaku perlu mempertimbangkan.

"Saya fokus untuk memperbaiki integritas generasi muda. Tapi, saya tetap akan memberikan kontribusi terbaik bagi Indonesia," pungkasnya. (Arief Rahman H, Dadang Setiawan/Galamedianews)