Rektor Corner
Apa yang dapat dilakukan oleh para insan pendidikan Islam untuk menjauhkan murid-murid dari tindakan yang berpotensi mengarah pada terorisme atau penggunaan kekerasan untuk menimbulkan ketakutan dalam usaha mencapai...next »



e-Journal



Rabu, 10-Mei-2017 | 16:03:33
Jadilah Muslim yang Bela Negara

[www.uinsgd.ac.id] Pancasil dan Agama tidak boleh dipisahkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena bersumber dari ajaran Islam.  "Sejak 71 Tahun lalu kita sudah sepakat. Pancasila kita jaga dan Agama tetap kita bela. Siapapun yang masih memisahkan berarti tidak mengikuti perkembangan zaman," ujar Zulkifli Hasan, Ketua MPR RI saat menjadi keynote speaker pada acara Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung dengan menghadirkan narasumber:  Dra. Ir. Hj. Eni Suparni, M.Kes (Anggota DPD RI), Prof. Dr. H. Asep Saeful Muhtadi, MA (Guru Besar Ilmu Komunikasi, UIN Sunan Gunung Djati Bandung), Wawan Gunawan, M.Ud (Jakatarub) di Aula Anwar Musaddad, Rabu (10/5).

Menjaga Pancasila itu bagian dari ajaran agama untuk cinta tanah air dan membela agama sesuai dengan sila pertama Pancasila. "Kata Haddratus Syech KH Hasyim Asy'ari Cinta Tanah Air adalah sebagian dari Iman. Sementara Sila Ketuhanan Yang Maha Esa menegaskan agama adalah bagian dari perilaku manusia Indonesia," jelasnya.

Oleh karena itu, pancasila menegaskan bahwa agama adalah inspirasi dan moral Perilaku manusia Indonesia sehari hari."Di era kemerdekaan ada Resolusi Jihad KH Hasyim Asy'ari. Apa motivasi utamanya? Takbir. Jadi kalau ada yg Takbir, jangan dicap Radikal," tegasnya.

Zulkifli menuturkan perilaku yang Pancasilais pada prinsipnya menegaskan paham bertuhan. "Tidak benar mempertentangkan antara agama, negara, kebangsaan, dan NKRI. Harus sejalan. Kita adalah negara Pancasila bukan ateis, sekuler, atau agama," katanya.

Terkait dengan budaya, Zulkifli menjelaskan, budaya masing-masing dijamin undang-undang. "Budaya lokal menjadi sumber budaya nasional. Keragaman itu kekuatan Indonesia, bukan sumber perpecahan dengan catatan saling menghormati dan menghargai. Karena beragam itulah namanya Indonesia, Nusantara," ujarnya. 

Dengan tegas Zulkifli menyatakan ribut tentang keragaman adalah langkah mundur. "Jangan ada stigma karena bisa memecah Indonesia," tuturnya.

Dalam silaturahmi ini Zulkifli mengajak mahasiswa untuk mengubah stigma dan citra Islam yang selama ini sering dicap miskin, kumuh dan ketinggalan. "Ayo sama-sama kita kerja keras ubahcitra Islam. Kejar ilmu pengetahuan dan mandiri dengan berwirausaha. Ini kunci agar umat bisa maju," ujarnya. 

Zulkifli Hasan menegaskan bahwa seorang muslim harus kaya. Kekayaannya digunakan untuk berbagi pada saudaranya dan mengurangi kemiskinan. Ia mencontohkan Nabi Muhammad yang berniaga dan menjadi pebisnis ulung. Dari contoh Muhammad, umat Muslim dapat mengubah citra.

"Dari ruangan ini kita ubah stigma Islam. Muslim itu kaya, keren, bermanfaat dan selalu berbagi pada saudara-saudaranya," tuturnya. 

Zulkifli berpesan kepada mahasiswa untuk meningkatkan peran sosialnya di masyarakat. Mahasiswa jangan hanya belajar. "Belajar di kampus juga perlu. Tapi ingat selalu bahwa sebaik-baiknya Muslim adalah dia yang banyak memberi manfaat."

Bagi Rektor UIN SGD Bandung, Prof. Dr. Mahmud, M.Si menjelaskan bela negara menjadi keharusan bagi umat Islam karena Rasul telah dicontohkannya dalam menjaga kota Mekah dan Madinah."Kalau ada segelintir orang yang mempertanyakan loyalitas umat Islam tentang cinta tanah air atau bela negara? Jawabanya wajib. Sebab cinta tanah air dan bela negara untuk umat Islam sebuah keharusan. Rasulullah telah mencontohkanya dalam menjaga Mekah dan Madinah. Meskipun harus rela berhijrah untuk mempertahankan dan menyebarkan ajaran Islam. Fathu Mekah menjadi menjadi bukti atas kecintaan Rasul terhadap kota Mekah," tegasnya.

Karena itu, jadilah seorang muslim harus mencintai tanah air. Caranya bela negara.

Mengenai keragama adalah sebuah keniscayaan. "Kebinekaan itu harga mati karena ajaran Islam menegaskan pentingnya menghargai, merawat keragaman manusia, seperti dijelaskan Al-Quran surat al-Hujurat ayat 13, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling takwa. Sesunggguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengena," pungkasnya. [Humas Al-Jamiah]