Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Selasa, 5-Des-2017 | 09:09:13
Hebat Teori, Lemah Praktik

[www.uinsgd.ac.id] Proses pendidikan kita masih mengundang banyak keluhan dari masyarakat, karena lulusannya hanya hebat di teori tetapi lemah di praktik; tidak inovatif, kreatif, dan kritis dalam menghadapi perkembangan teknologi infomasi yang serba cepat dan sulit diprediksi.

Demikian penegasan Rektor UIN SGD Bandung Prof Dr H Mahmud, M.Si saat membuka acara evaluasi Implementasi Kurikulum Berbasis KKNI di Puri Khatulistiwa, Sumedang, Kamis (30/11/2017). Acara yang digelar Bagian Akademik UIN SGD Bandung ini, menghadirkan narasumber Prof Dr H Sutrisno, M.Ag (Warek I Bidang Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta) dan Prof Dr H Deden Mulyana, SE, M.Si (Warek I Bidang Akademik Unsil Tasikmalaya), dihadiri oleh para dekan, Wakil Dekan I dan para ketua program studi (prodi) di lingkungan UIN SGD.

Bagi UIN Bandung, sebenarnya pelaksanaan Kurikulum KKNI (Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia) itu tidak perlu sulit, karena ini sebagai pengejawantahan dari wahyu pertama diterima Nabi Muhammad SAW, yakni menyuruh membaca “iqra” . Ada tiga yang harus dibaca: baca masa lalu, baca masa sekarang, dan baca masa yang akan datang. “Kita baru bisa membaca masa sekarang. Itu pun masih dalam taraf penyesuaian,” kata Rektor.

Pada umumnya pendidikan di Indonesia telat dalam merespons berbagai macam keluhan tadi. Berbeda dengan di Malaysia, ketika ada keluhan langsung direspons. Sistemnya diubah, dua tahun mahasiswa belajar di kampus (teori), dua tahun praktik di lapangan, sehingga ilmu yang dihasilkan melalui pendidikan terintegrasi dengan  pelatihan dan pengalaman kerja.

“UIN Bandung sudah setahun menerapkan kurikulum berbasis KKNI. Mari kita evaluasi dan kaji selama setahun ini. Apakah profil lulusan kita sudah layak dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat? Mari kita antisipasi tantangan ke depan melalui penerapan Kurikulum KKNI ini!” ajak Rektor.

Kedua narasumber Prof Sutrisno maupun Prof Deden menekankan pentingnya otonomi perguruan tinggi. Keberhasilan model apapun, baik kurikulum maupun proses pendidikan, kuncinya adalah otonomi, termasuk otonomi prodi. “Apapun konsepnya akan sulit dilaksanakan manakala tidak diberikan otonomi,” katanya.(Nanang Sungkawa)