Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Selasa, 24-Okt-2017 | 07:54:14
FAH UIN SGD Gelar Pekan Ilmiah II

[www.uinsgd.ac.id] Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Pekan Ilmiah II, selama lima hari (23 – 27 Oktober 2017). Acara ini menunjukkan bahwa FAH tetap concern pada peningkatkan mutu akademik, dan terus memberikan stimulus pada sivitas akademika agar meningkatkan kompentensi akademiknya untuk menjawab tantangan zaman yang semakin kompetitif. 

“Pekan ilmiah II diisi dengan kegiatan seminar internasional,  terkait dengan Jurusan Bahasa dan Sastra Arab, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam, dan Jurusan Sastra Inggris.  Dilengkapi dengan Aksi Kreativitas Akademik dan Budaya (AKRAB), dengan menampilkan aneka lomba Akademik dan Olahraga, serta Pentas Seni Mahasiswa,” ujar Dekan FAH UIN SGD Bandung Dr Setia Gumilar, S.Ag, M.Si usai pembukaan Pekan Ilmiah II, di Auditorium Anwar Musaddad UIN Bandung, Senin (23/10/2017). 

Acara dibuka oleh Rektor UIN SGD Bandung Prof Dr H Mahmud, M.Si;  dihadiri oleh para dekan di lingkungan UIN SGD; Wakil Dekan I FAH Dr Ading Kusdiana, M.Ag; Wakil Dekan II  Dr  Dedi Supriadi, M.Hum, Wakil Dekan III  Dr Dadan Rusmana, M.Ag;  Ketua dan Sekretaris Jurusan di lingkungan FAH; para dosen, dan mahasiswa. Seminar internasional ini menghadirkan narasumber/pakar yang memiliki kompetensi dalam  bidang  bahasa, sastra,  budaya, naskah dan sejarah  yang berasal  dari Australia, Jerman, India, Sudan, Yaman, dan Indonesia.  

“Sudah terkumpul sebanyak 120 tulisan call paper prosiding seminar. Nantinya akan diekspose dalam prociding ber-ISBN. Dan, bagi yang bagus akan diusulkan untuk mendapatkan sertifikat HAKI,” ujar Dr Setia, seraya menjelaskan bahwa PIM ini juga menjadi wahana peningkatan budaya literasi dan publikasi ilmiah bagi para dosen FAH, termasuk dosen luar yang di antaranya hadir dari Unpad, UGM, UI, UPI Bandung, dan Unisma. 

Menurut Dr Setia, jika mengacu pada Permendikbud No 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional  Pendidikan Tinggi, maka Pekan Ilmiah ini sangat penting. Sebab, dalam faktanya masih banyak problem, terutama lemahnya budaya akademik di kalangan mahasiswa dan dosen  di Indonesia. Lalu diperparah dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang kurang siap pakai. “Semoga Pekan Ilmiah ini bisa menjawab prolematik tersebut,” harap Dr Setia.

Rektor  UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof Dr H Mahmud M.Si memberikan apresiasi yang setingggi-tingginya dengan diselenggarakannya Pekan Ilmiah ini. Ini sangat penting dalam mendorong dan membuka wawasan intelektual sivitas akademika, khususnya di FAH. “Perlu diketahui  bahwa saat  ini UIN Sunan Gunung Djati Bandung  tercatat  sebagai Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN)  yang memiliki  sertifikat  HAKI  terbanyak di Indonesia,” ujarnya. 

Tahun ketiga dalam kepemimpinannya, Rektor akan membenahi aspek pengajaran, jangan sampai ada kegiatan belajar mengajar (KBM) yang terhenti karena dosennya sedang ada di luar. Maka, pada tahun depan Rektor akan merealisasikan e-learning, minimal dua kelas per jurusan, agar bisa KBM jarak jauh. 

Ditanya soal lemahnya budaya baca, budaya menulis di kalangan dosen? Rektor menjawab, “Sangat ironis kalau hal itu terjadi di UIN Bandung. Kita kan tahu bahwa ayat pertama diwahyukan adalah Surat al-Alaq, ayat pertamanya diawali dengan kata iqra’ (bacalah). Artinya, tidak akan ada dosen UIN Bandung yang memiliki budaya baca dan budaya menulis yang lemah!” [Nanang Sungkawa]