Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Rabu, 25-Okt-2017 | 15:58:14
FAH Gelar Konferensi Internasional Islam di Asia Tenggara

[www.uinsgd.ac.id] Upaya menghadirkan khazanah Islam di Asia Tenggara yang bersumber pada manuskrip, Jurusan Sejarah dan Peradaban Islam (SPI) Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Konferensi Internasional tentang Islam di Asia Tenggara bertajuk "Islam di Asia Tenggara dari berbagai Perspektif" dengan menghadirkan narasumber: Oman Fathurahman (Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah), Kartin Badel (dosen Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma), Sidney Jones (Direktur Institute for Policy Analysis of Conflict) yang dibuka secara resmi oleh Dekan FAH, Dr. Setia Gumilar, S.Ag, M.Si di Aula Anwar Musaddad, Rabu (25/10).

Dalam sambutanya Dekan FAH menjelaskan "Seminar Internasional Jurusan SPI ini merupakan rangkaian dari Pekan Ilmiah II FAH UIN SGD Bandung yang dilaksanakan selama lima hari dari tanggal 23 sampai 27 Oktober 2017 yang dilengkapi dengan Aksi Kreativitas Akademik dan Budaya (AKRAB), menampilkan aneka lomba Akademik dan Olahraga, serta Pentas Seni Mahasiswa," tegasnya.

“Sudah terkumpul sebanyak 120 tulisan call paper prosiding seminar. Nantinya akan diekspose dalam prociding ber-ISBN. Dan, bagi yang bagus akan diusulkan untuk mendapatkan sertifikat HAKI,” ujar Dekan FAH, seraya menjelaskan bahwa PIM ini juga menjadi wahana peningkatan budaya literasi dan publikasi ilmiah bagi para dosen FAH, termasuk dosen luar yang di antaranya hadir dari Unpad, UGM, UI, UPI Bandung, dan Unisma. 

Jika mengacu pada Permendikbud No 49 Tahun 2014 tentang Standar Nasional  Pendidikan Tinggi, maka Pekan Ilmiah ini sangat penting. Sebab, dalam faktanya masih banyak problem, terutama lemahnya budaya akademik di kalangan mahasiswa dan dosen  di Indonesia. Lalu diperparah dengan banyaknya lulusan perguruan tinggi yang kurang siap pakai. “Semoga Pekan Ilmiah ini bisa menjawab prolematik tersebut,” tegasnya.

Bagi Guru Besar Filologi usaha penguatan kajian Islam di Asia Tenggara harus dimulai dari manuskrip Islam Nusantara, melalui Filologi sebagai perangkat keilmuan utama untuk mengkajinya, sangat potensial untuk dijadikan sebagai salah satu entri point pengembangan dan penguatan tradisi riset tentang Islam Indonesia khususnya dan Asia Tenggara umumnya. 

Mengingat potensinya yang cukup signifikan, manuskrip Islam Nusantara dapat menjadi pintu masuk untuk menghidupkan kembali tradisi dan aktifitas keilmuan di lembaga-lembaga pendidikan Islam tradisional, semacam pesantren, yang pada masa lalu memang pernah menjadi center of excellence keilmuan Islam Nusantara.

Jika mimpi-mimpi untuk mengembangkan tradisi riset Islam Indonesia ingin kita wujudkan, dan jika perguruan-perguruan tinggi agama Islam berminat memperkuat tradisi riset dan akademik di kampusnya, maka infrastruktur yang dibutuhkan tersebut sudah seyogyanya dibangun terlebih dahulu. "Manuskrip sebagai salah satu mozaik Islam Nusantara, merupakan salah satu aset yang sangat potensial dan patut dipertimbangkan untuk dijadikan sebagai pintu masuk penguatan tradisi riset Islam Indonesia dan Asia Tenggara," tegasnya.

"Seperti pernyataan Anthony Johns yang sering saya kutip, manuskrip Islam, yang ditulis oleh elit Muslim Nusantara sendiri, dan untuk dikonsumsi oleh komunitas lokal setempat, dapat menjadi sumber kajian otentik untuk memahami karakter yang sesungguhnya dari Islam dan Muslim di wilayah ini," jelasnya. 

Untuk manuskrip Marawi, warisan Haji Muhammad Said, (Sayyidna), seorang ulama pengembara abad ke-19 asal Magonaya, Mindanao, yang pernah singgah di Borneo, Lingga, Johor, dan Palembang, sebelum tujuh tahun belajar di Haramayn. 

Manuskrip-manuskrip di Marawi adalah bukti tertulis sejarah pertemuan dan dialog agama Islam abad ke-18 dan 19 dengan keragaman budaya lokal setempat. Tidak beda dengan di Indonesia, manuskrip-manuskrip semacam itu sangat penting dalam konteks memahami watak Islam Nusantara yang mampu berdialog dengan keragaman, beradaptasi dengan tradisi lama, bukan sebaliknya, Islam yang hanya berkiblat pada satu tafsir kebenaran tunggal.

"Bagi saya, manuskrip-manuskrip tersebut adalah saksi bisu akar identitas asli masyarakat Muslim Melayu Mindanao yang sebelumnya moderat dengan tarekat dan neo-sufisnya. Kini bergeser menjadi militan radikal, kepanjangan misi kelompok radikal NIIS di wilayah Asia Tenggara," paparnya.  

Untuk mengembalikan khazanah Islam yang moderat, Oman mengajak kepada kita semua "Mari kita kontruksi Islam Nusantara dengan berbasis pada sumber-sumber primer, seperti manuskrip yang menghadirkan khazanah perdaban Islam yang santun, moderat, sehingga anggapan Islam pinggiran itu tidak melekat pada Islam Indonesia, Asia Tenggaran ini," pesannya.

"Digitalisasi manuskrip Islam di Indonesia, Asia Tenggara menjadi penting untuk memperkaya perspektif baik dari luar yang selama ini beranggapan Islam di Nusantara ini kurang begitu taat karena abangan, tidak memakai bahasa Arab dalam keseharianya maupun perspektif dalam yang bersumber dari manuskrip," terangnya. 

Menurut Sidney, kondisi yang melahirkan Marawi seperti sekarang ini dikarenakan: "Pertama, banyaknya kelompok bersenjata yang anggotanya bisa ecruited to ISIS, seperti MILF, MNLF, ASG dan BIFF; Kedua, banyak daerah dimana pemerintah tidak ada atau tidak efektif; Ketiga, ARMM termasuk daerah termiskin di Filipina; Keempat, banyak mahasiswa bisa direkrut," jelasnya. 

Pasca kematian Isnilon Hapilon dan Omar Maute tewas dalam bom udara 16 Oktober, yang masih hidup dari koalisi ISIS bisa kembali ke tempat masing-masing. Basilan bisa kembali dikuasai oleh ASG dan mulai penculikan lagi. 

Di Marawi sendiri, gerakan baru bisa muncul, "Dengan kemarahan terhadap pemerintah. Dengan kondisi di tempat pengungsi. Dengan ideologi yang sudah disebarkan, tapi bisa juga lebih bersifat ethno-nasionalis (suku Maranao) daripada pro-ISIS. ISIS mungkin kalah di Timur Tengah dan Marawi tapi kelompok ekstrim akan tetap berobah dan survive di Asia Tenggara," pungkasnya. [Humas Al-Jamiah]