Rektor Corner
Beberapa hari kebelakang kita berkumpul dalam rangka memperingati satu peristiwa hari raya yang amat istimewa, yang oleh kita ummat disebut dengan berbagai macam sebutan, ada yang menyebutnya dengan Idul Adha, ada yang...next »



e-Journal



Rabu, 29-Nov-2017 | 15:32:32
Buku sebagai Sahabat Setia

[www.uinsgd.ac.id] Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN SGD Bandung Dr H Ah Fathoni mengharapkan semua mahasiswanya membiasakan diri membaca buku. Sebab buku adalah sumber ilmu pengetahuan, yang dapat menghantarkan kesuksesan hidup di masa depan.

“Jangan gemar membaca berita-berita hoax di media sosial, tetapi bacalah buku sebagai sumber ilmu! Jadikan buku sebagai sahabat setia!” tegas Dekan, di hadapan 1.007 mahasiswa semester I dalam acara Seminar Motivasi Nasional “Meraih Prestasi, Sukses Mandiri dan Menginspirasi”  di Aula FSH, Selasa (28/11/2017). Seminar, yang digelar selama dua hari (28-29/11/2017) ini menghadirkan motivator Sihabudin Mukhlis, SH dan Riyan Apriyanto, SH dari Internusa (Indonesia Traiing Center Nusantara) Bandung.

Semua manusia, lanjut Dekan, memiliki piranti (potensi dasar) berupa fitrah yang harus diolah dan dikembangkan sebagaimana mestinya. Fitrah intelektual, misalnya, seyogianya dipelihara dan dilatih dengan hal-hal yang baik, melalui pembiasaan membaca buku. “Yang mengkhawatirkan sekarang, hampir 40 persen pengguna media sosial gemar membaca berita-berita hoax. Itu dapat menghambat kegemaran membaca buku sebagai ilmu pengetahuan,” jelasnya.

Pantas kalau hasil riset menyatakan bahwa tingkat baca di Indonesia 0,001 persen. Artinya, dari seribu orang, hanya satu orang  yang punya minat membaca. Lalu, Indonesia termasuk urutan ke-60 dari 61 negara yang tingkat membacanya rendah. “Nah, kalau mahasiswa tidak peduli terhadap buku, mau jadi apa nantinya?” Tanya Dekan.

Mengakhiri sambutannya, Dekan berpesan kepada mehasiswa agar senantiasa menghormati dosen/guru. Sebab keberkahan ilmu bukan ditentukan oleh kemampuan dan tingkat intelektualnya, tetapi bagaimana dia menghormati dosen/gurunya. (Nanang Sungkawa)